4.36 AVERAGE


Sepanjang trilogi ini yang bisa saya jabarkan dalam satu kata hanya ironi. Yang indah. Tapi tetap saja ironi mana yang rasa stroberi?

Setelah sekian lama masuk TBR list, akhirnya selesai baca juga...

Buku ini menceritakan tentang Dukuh Paruk dengan anak keturunannya yang bernama Srintil dan Rasus. Mereka besar di dukuh itu yang penuh dengan kekumuhan, kebodohan dan tembang birahinya. Oh sungguh mirisnya, bahkan setelah malapetaka yang menimpa dukuh itu dan ronggengnya, ia masih tetap bodoh dan cabul.

Menurutku, tulisan beliau ini sangat 'kalem'. Entahlah, meskipun kejadian mencekam dan puncak sebab-akibat sebenarnya tegang, aku masih merasa santuy bacanya. Mungkin efek karena ketika beliau menuliskan latar alamnya sangat membuatku nyaman, jadi ketika baca konfliknya aku jadi biasa saja. Tapi tetap, aku suka sama gaya penulisannya sih karena lumayan masuk di seleraku.

Aku ngga bisa ngasih buku ini bintang lima karena hal tadi juga. Klimaksnya kurang berasa dan sedikit kecewa dengan endingnya. Mungkin bisa saja Rasus 'mengabdi' tanpa 'mengawini' tapi ya kalau penulis sudah berkehendak, pembaca bisa apa. Kan kita cuma bisa baca doang, ngga tau gimana susahnya buat menciptakan buku ini.

"Kita sama-sama anak kandung Dukuh Paruk dan kita sama-sama mencintainya karena sesungguhnya tidak ada ibu yang jahat. Tetapi ibu kita memang bodoh sejak semula. Dia tidak mengerti semua hal yang baik atau yang buruk bagi anak-anaknya" - Rasus

Semoga tidak ada lagi Dukuh Paruk lain atau Srintil lain yang menjadi korban kebodohan dan pemerintah yang terkesan angkat tangan.

(Review yang singkat ini ditulis di pagi hari ; 04.08.2024 - 15.08.2024)

Reading slump yang melelahkan. Ceritanya memang mengalir tapi menurutku terasa lambat dan bertele-tele.

Bercerita tentang Srintil yang menjadi titisan ronggeng di Dukuh Paruk sejak kecil. Mencintai sosok bernama Rasus. Dan kisah cinta mereka dulunya tidak direstui oleh warga Dukuh Paruk karena berbeda kasta. Singkat cerita, Rasus menjadi tentara dan menjadi penolong atas pecahnya Dukuh Paruk, serta menyelamatkan Srintil dari tahanan. Sudah jelas betapa Rasus mencintai Srintil, tapi dia seakan tarik-ulur hubungan dengan perasaannya serta pekerjaannya yang harus keluar pulau. Endingnya benar-benar di luar ekspektasi.

Akhirnya selesai juga baca novel ini. Penggambaran mengenai Dukuh Paruk cukup detail. Nggak cuma hubungan antarmanusia yang dideskripsiin Pak Ahmad Tohari, melainkan hubungan antarhewan pun juga jadi pelengkap. Misalnya 'seekor burung yang baru saja hinggap di tanah, langsung menjadi mangsa ular yang kelaparan.'

Buku ini merupakan gabungan dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Buku pertama, Catatan Buat Emak, menggambarkan Srintil yang baru 11 tahun ingin menjadi seorang ronggeng, dan hubungan Srintil dengan Rasus. Buku kedua bagaimana Srintil mempertanyakan, apakah salah menjadi seorang Ronggeng? Dan secara nggak sengaja, Dukuh Paruk terlibat dalam aksi tahun 1965. Buku ketiga merupakan akhir petualangan Srintil, seorang mantan ronggeng dan hubungannya dengan Rasus.

Penggambaran latar yang terlalu detail bisa jadi nilai plus dan negatif dari gaya Ahmad Tohari. Nilai plusnya tentu bagaimana dia mampu mengajak kita merasakan secara nyata bagaimana situasi dan kondisi suatu pedesaan. Sedang negatifnya adalah penggambaran yang berlebihan.

saya pernah membacanya sebagai cerita bersambung.
juga pernah punya bukunya [entah sekarang di pinjem siapa kok ndak ada lagi di rak:].
dulu membeli bukunya dan membaca [ulang:] karena ingin lebih detail mencari info sekitar kudeta 65 dan pembantaian pengikut sukarno di tahun-tahun sesudahnya.
jadi, pertama-tama baca novel ini sudah subversif: tidak baca novelnya tapi ingin menyuplik data historisnya.
di novel ini peristiwa publik politik tadi meresap dalam pergulatan batin dalam tubuh seorang ronggeng. ronggeng dari daerah pinggiran, di paruk banyumas,yang juga daerah perbatasan antara kultur sunda dan jawa.
pun di pinggiran inilah, di tempat yang berjarak dari perebutan kekuasaan di kota-kota besar, tubuh perempuan juga coba diseret ke dalam klasifikasi biner orba-orla, hidup-mati.
ia berhasil menghindar dan selamat darinya.
selamat? benarkah?

Tbh, I must say, this book is brilliantly written—so much so that the uncomfortable parts were genuinely triggering and left me seething. Srintil, an 11-year-old girl, so pure and innocent, is forced to accept her fate as Dukuh Paruk’s “Ronggeng” her innocent, is torn from her without consent, without even her understanding. She becomes a pupet.

Instead of being revered as a sacred symbol, she transforms into the very antithesis of purity. How tragic it is to be a woman—granted the so-called blessing of beauty, yet cursed with the burden it brings. Srintil’s life unravels, a series of misfortunes she cannot escape. The world has never been kind to women, not then, not now.

The crude, explicit narrative was, honestly, deeply unsettling. But credit must be given where it’s due—the author’s penmanship is masterful, weaving the story in a way that pulls you under its spell, no matter how dark or painful. Tragic, yes, but also profoundly eye-opening. Because somewhere, far beyond the pages of this book, we know—this isn’t just a story. There are countless Srintils out there, enduring the same misfortunes, unseen and unheard.
emotional informative reflective sad tense medium-paced
Plot or Character Driven: Character
Strong character development: Yes
Loveable characters: Complicated
Diverse cast of characters: Complicated
Flaws of characters a main focus: Yes

Saya membaca buku ini menggunakan platform digital, bukan beli tapi meminjam di e-library milik Kementerian Keuangan.

Jelas, saya membaca buku ini karena banyak sekali review positif dari banyak bookfluencer setelah melahap bacaan ini. Hingga akhirnya saya berhasil menemukan buku ini free to read di platform digital itu.
Saya sudah kena spill kalau gaya penulisan Ahmad Tohari itu sungguh detil dalam menggambarkan latar suatu cerita. Dan Ronggeng Dukuh Paruk dibuka dengan paragraf yang begitu indah. Menggambarkan bagaimana kondisi Dukuh Paruk yang masih asri dengan segala kemelaratannya dan alam yang menaunginya.

Ahmad Tohari benar-benar seperti menulis puisi dalam setiap paragrafnya. Beberapa kali memang terkesan bertele-tele tapi seringnya itu justru memperkuat saya sebagai pembaca untuk menyelami dan diajak untuk ikut merasakan pergulatan batin para tokohnya.
Ronggeng Dukuh Paruk juga ikut menceritakan bagaimana efek samping yang luar biasa pasca kejadian "geger komunis 1965" bagi seorang bekas tahanan dan struktur kemasyarakatan.

Buku ini diakhiri dengan kondisi yang sungguh tragis dan memilukan. Bagaimana seorang yang dulunya jaya bisa menjadi gila karena harapan yang begitu tinggi dihempas begitu saja menghujam ke dalam bumi.

"Bahwa zaman berjalan sambil mengayun ke kiri dan ke kanan. Setelah Dukuh Paruk mencapai puncak kebanggaan, kini zaman mengayunkannya ke kurun yang membawa serta kebalikannya.”
dark emotional sad medium-paced
Plot or Character Driven: Character
Strong character development: Complicated
Loveable characters: Yes
Diverse cast of characters: Yes
Flaws of characters a main focus: No