Reviews

Parade Hantu Siang Bolong, by Titah AW

nervus's review

Go to review page

3.0

aku salah menyangka. tadi sewaktu update progress baca, kukira akan ada artikel tulisan yang murni dibuat dan eksklusif hanya bisa dibaca di buku ini. ternyata kesemuanya sudah pernah dimuat di VICE Indonesia. beberapa mungkin terlewat, enggak kutemukan sewaktu menyelam memenuhi rasa penasaran karena hype di literarybase twitter. mungkin memang dihapus(?)

secara keseluruhan, merupakan pengalaman baca yang asik dan menarik. kekecewaan muncul setelah temanya bergeser dari hal mistis ke fenomena sosial lokal, cukup melenceng dari premis dan judul bukunya sendiri. sedikit merasa terkhianati karena horror yang disajikan tidak cukup.

sebelum dan sesudah konten isi, buku ini diberi pengantar yang cukup ekstensif. namun aneh adalah dibagian yang diberi judul "Epilog". karena isinya malah seperti bagian blablabla dari review komprehensif kritikus yang biasa dilihat di media-media. jadi kalo mau baca review, udah sekalian di bagian bukunya. hahahahh
kata 'lokalitas' muncul di "Epilog" tadi. buatku ini sangat menggambarkan keseluruhan konten buku ini. yang katanya jurnalistik-sastrawi, ditulis oleh penulis yang bernaung di bawah media edgy, VICE. benar memberikan sudut pandang netral dan lebih lengkap daripada yang sering diunggah media lain, yang seringnya jadi kolom baca remeh. cakupan latar tempat masih sangat terbatas, di Pulau Jawa, mayoritas di Yogyakarta.

untuk pembaca yang mau memilih buku ini sebagai bacaan selanjutnya, mungkin bisa diatur ulang ekspektasinya. terutama yang menjadikan judulnya sebagai patokan.

pearlgoddness's review

Go to review page

4.0

Finished. Kirain buku ini bakal ngebahas hantu-hantu endemik Indonesia seperti tuyul dan gendoruwo

safaracathasa's review

Go to review page

4.0

Buku ini berisi 16 reportase seputar Sosial Budaya di Tulungagung, Jogja, dan sekitarnya. Untuk saya yang orang kota, buku ini membuka pikiran saya bahwa ada banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, tapi bukan berarti kita bisa bilang itu "kafir".

Reportase favorit saya adalah seputar tarot. Beberapa tahun belakangan, tarot menjadi naik daun di tengah masyarakat kita. Bagi saya yang belajar tentang yoga, saya bisa memahami jika tarot adalah simbol dari kekuatan "tidak terlihat" di alam. Ada kesadaran diri yang terkoneksi dengan diri kita, alam, dan Tuhan.

Jika ada versi hardcover dan berwarna, pasti saya akan membelinya.

salfeb's review

Go to review page

4.0

Tertarik buku ini karena covernya cantik dan ada satu artikel dari kotaku haha. Suka bukunya karena menawarkan POV baru buat aku yang suka skeptis duluan sama budaya dan kebiasaan lokal yang, menurutku, ga masuk logika.

Satu hal yang agak menganggu pengalaman membacanya: banyak penempatan foto di tengah-tengah kalimat jadi bukannya mendukung narasi malah mendistraksi. Tapi overall ga nyesel sih beli dan baca buku ini.

shanindi's review

Go to review page

4.0

Berisi kumpulan reportase tentang budaya dan tradisi lokal yang jarang diketahui orang. Ada yang berbau mistis seperti tradisi Ebeg atau kesurupan masal di Banyumas juga Kampung Pitu yang hanya bisa dihuni 7 keluarga. Ada juga tradisi unik seperti lomba misuh, golek garwo atau cari jodoh, juga adu bising knalpot. Semuanya dibahas dengan cukup detail karena narasumbernya memang orang yang terlibat secara langsung di dalamnya. Ada hal yang tampaknya absurd tapi sebenarnya bisa dijelaskan dengan pendekatan sains dan psikologi, ada juga hal mistis yang memang seperti itu adanya. Memang benar yang dikatakan Titah AW dalam buku ini, 'Jika Indonesia ini buku, maka genrenya pasti realisme magis."

shafiraindika's review

Go to review page

5.0

“Parade Hantu Siang Bolong”, seperti yang telah disebutkan di bagian belakang buku, berisikan 16 reportase hasil penulisan Titah AW yang membahas mitos dan lokalitas di berbagai daerah. Menurutku, kesemuanya menarik dan dituliskan dgn gaya yang sangat menyenangkan utk di baca.

4,8/5. ⭐️

duvetdaeze's review

Go to review page

4.0

"bahwa jika Indonesia ini buku, maka genre-nya pasti realisme magis."

dendengbatokok's review

Go to review page

5.0

Ulasan berikut merupakan ulasan yang pernah gw muat di akun instagram @faisalchairul
.
Kisah-kisah dlm buku ini ibarat penawar rindu buat gw yg hobi road trip keliling Indonesia. Klo sblm mengenal buku ini gw mengenal Indonesia lewat perjalanan, makanannya yg beragam, pemandangannya yg indah, kali ini gw disuguhkan oleh kisah budaya lokalitas yg sangat bernyawa.
.
Ya, bernyawa. Gw itu kepengen bgt ngoleksi majalah/koran lokal setiap gw singgah di kota2 tertentu pas road trip, krn gw penasaran dgn kearifan budaya setempat. Namun, mostly kisah2 yg disampaikan hny disampaikan terbatas scr deskriptif, gak mengandung 'nyawa'. Buku ini berbeda. Penulis berhasil meniupkan ruh ke dlm cerita2 dlm buku ini.
.
Ada 4 cerita dr keseluruhan 16 cerita yg gw favoritkan dlm buku ini. Yg pertama adl ttg ebeg di Banyumas. Sbg org kota (urban), gw pasti mikirnya, "ini apa sih, kesurupan kok dibikin festival?", tp stlh baca buku ini gw melihatnya sbg sesuatu yg menarik. Boleh jg nih ebeg dijadiin opsi buat melepas penat (alasannya ada di foto~)

nanaa's review

Go to review page

3.5

Di buku ini aku jadi mengetahui tentang budaya-budaya Indonesia yang sangat unik. Ga hanya budaya lokal, namun aktivitas terkait lokalitas juga ada di buku ini. Titah menceritakan berbagai kegiatan budaya lokal dari sudut pandang yang lebih masuk akal tanpa mengurangi respect nya terhadap budaya tersebut. Sayangnya bahasan mengenai budaya mistik di Indonesia hanya terdapat di beberapa bab awal saja, hal ini membuat aku jadi sedikit kecewa karena ku kira Titah akan full membahas mengenai "mistis" nya budaya lokal. Tapi secara keseluruhan aku tetap menyukai buku ini. Looking forward to another book by Titah

farbooksventure's review

Go to review page

informative reflective fast-paced

3.5

More...