A review by blackferrum
Planet Luna by Ray Antariksa Yasmine

dark emotional funny informative lighthearted reflective sad medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? Yes
  • Loveable characters? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.75

Another Elex's Lit yang bikin banyak merenung. Permasalahan Luna nggak bisa dibilang sepele. Justru masalah ini kompleks dan harus banget dibahas. Perundungan, apa pun bentuknya, akan meninggalkan bekas berupa luka dan nggak akan sembuh dalam jangka waktu yang pendek. Stop school Bullying!

Luna mengalami perundungan ketika SD sebelum akhirnya dipindahkan ke Solo dan tinggal bersama neneknya. Bertahun-tahun hidupnya damai, lalu neneknya meninggal dan hal itu jelas memengaruhi kehidupan Luna setelahnya.

Trauma masa lalu masih belum sepenuhnya membaik, ditambah kondisi sekolah barunya yang sama saja seperti dulu. Luna jelas nggak betah. Itu sebelum bertemu dengan Sheila dan dua temannya lalu mereka menjadi sahabat. Lalu Nawang, tetangga sekaligus teman satu sekolah, yang ingin berteman dengan Luna, datang dan semua mimpi buruk dimulai.

Kayaknya aku pernah bilang di suatu tempat jika topik dalam YA bisa sangat depresif. I told about another' publisher, but this one kind of. Topiknya sangat tidak mudah diterima begitu saja sekaligus harus banget dibaca. Perundungan nggak pernah jadi topik yang mudah, kan, mengingat dampak buruknya.

Isi kepala Luna sangat berisik. Beneran berisik sampai-sampai pembacanya ikut terseret dan mau nggak mau harus memikirkannya juga. Well, nggak bisa menyalahkan Luna. Yang dia alami jelas bukan hal sepele apalagi mudah. Kalau sepanjang baca ini kamu merasa "lelah", maka kamu ikut merasakan beratnya posisi Luna.

Ketika akhirnya dapat teman yang berakhir jadi sahabat, Luna mengulang bagian apa yang belum pernah dia rasakan. Yah, kelihatannya kekanakan, terlalu norak, ke mana-mana bareng seolah nggak mau lepas, dan kelewat senang. Yep, siapa juga yang nggak kepengin punya sahabat, apalagi lingkungan kelasnya nggak kondusif. Lama-lama paham kenapa Luna merasa cemburu waktu sahabatnya pilih fokus ke kelompok belajar ketimbang menghabiskan waktu sama dia. Sekali lagi, Luna baru merasakan itu di tahun pertamanya di SMA.

Bagian yang aku suka di buku ini adalah meskipun mengalami masa-masa sulit, mereka nggak ragu buat mengambil langkah, meskipun menyakitkan. Dan yang paling penting; mengusahakan untuk sembuh.

Realistic fiction yang ini harus banget dibaca, berapa pun umur kalian. Perundungan bukan topik yang nyaman, tapi korban lebih merasa tidak nyaman seumur hidupnya.