Scan barcode
A review by aynsrtn
Trisurya - The Three-Body Problem by Cixin Liu
challenging
dark
mysterious
tense
slow-paced
- Plot- or character-driven? Plot
- Strong character development? It's complicated
- Loveable characters? It's complicated
- Diverse cast of characters? It's complicated
- Flaws of characters a main focus? It's complicated
4.0
Buku ini begitu mengagumkan, tetapi juga begitu menakutkan. Sampai membuatku berpikir apa iya nanti 400 tahun kemudian, bumi akan didatangi oleh makhluk Trisurya?
Actual rating: 4.5 stars
"Untuk menghasilkan sesuatu dalam fisika teoritis, orang harus memiliki semacam iman. Kalau tidak, mudah sekali dia terjerumus ke jurang yang dalam." -p.77
Banyak pelajaran yang akhirnya membuka wawasanku mengenai Fisika, Filsafat, Sosiologi, Alien, serta Manusia itu sendiri. Some of karena kebanyakan informasi fisikanya, jadi berasa belajar fisika 10 sks. Pusing, tapi seru. Dan setiap halaman buku ini buat aku berfikir, kok bisa sih kepikiran cerita seperti ini? Kek beyond of my imagination but in good way.
Satu hal yang menjadi catatanku karena ini lebih plot-driven, jadi nggak kerasa sama sekali character development-nya. Bahkan sisi "humanis" [padahal mereka manusia lho] malah nggak ada sama sekali. Baik Ye, Wang, dan yang lainnya seperti ilmuan tanpa hati dan tanpa iman. Ada part Wang yang ngerasa takut, tapi itu pun nggak terlalu kentara. Apalagi Ye, memang kayaknya perasaan dia udah mati sejak melihat ayahnya dipersekusi.
Tapi, aku suka karakter Shi. Dia polisi yang ada sisi "manusia"-nya, meski ide dia di operasipembelahan kapal begitu menakutkan-like a monster.
Next akan membaca buku keduanya.
Actual rating: 4.5 stars
"Untuk menghasilkan sesuatu dalam fisika teoritis, orang harus memiliki semacam iman. Kalau tidak, mudah sekali dia terjerumus ke jurang yang dalam." -p.77
Banyak pelajaran yang akhirnya membuka wawasanku mengenai Fisika, Filsafat, Sosiologi, Alien, serta Manusia itu sendiri. Some of karena kebanyakan informasi fisikanya, jadi berasa belajar fisika 10 sks. Pusing, tapi seru. Dan setiap halaman buku ini buat aku berfikir, kok bisa sih kepikiran cerita seperti ini? Kek beyond of my imagination but in good way.
Satu hal yang menjadi catatanku karena ini lebih plot-driven, jadi nggak kerasa sama sekali character development-nya. Bahkan sisi "humanis" [padahal mereka manusia lho] malah nggak ada sama sekali. Baik Ye, Wang, dan yang lainnya seperti ilmuan tanpa hati dan tanpa iman. Ada part Wang yang ngerasa takut, tapi itu pun nggak terlalu kentara. Apalagi Ye, memang kayaknya perasaan dia udah mati sejak melihat ayahnya dipersekusi.
Tapi, aku suka karakter Shi. Dia polisi yang ada sisi "manusia"-nya, meski ide dia di operasi
Next akan membaca buku keduanya.