Take a photo of a barcode or cover
nrannisak 's review for:
The Courage to Be Disliked: How to Free Yourself, Change your Life and Achieve Real Happiness
by Fumitake Koga, Ichiro Kishimi
This book is fascinating, tapi menurutku ada beberapa hal yang misleading, atau berpotensi jadi misleading. Khususnya di pembahasan mengenai trauma, problem behavior (self harm and others). Aku bener-bener against his views.
Buku ini disajikan dengan dialog naratif yg ala socrates gitu (approach yang bagus karena kalo nggak gini aku nggak bakal tertarik untuk baca, teleology adler berseberangan banget sama aku yg ternyata lebih ke-"freud").
Awalnya bakal banyak bgt denial sih, apalagi Adler itu kayak... lack of emphaty.. mungkin, istilahnya. misal, dia nggak mengiyakan tentang trauma. kayak iya trauma memang eksis tapi itu lagi-lagi adalah coping mechanism kamu sendiri, jadi apapun yang kamu rasain, no matter how much it tortures you, you will always be the one to blame. Dia penganut free will garis keras (menurutku), dan dia yakin manusia itu bisa berubah, cuma mereka aja yang sebenernya nggak pengen melakukannya.
Sebenernya hidup itu simpel, katanya, kita aja yang bikin rumit. Lagi-lagi aku ga setuju sama Adler. hidup nggak simpel sih... unless you're a pig or a goat... meski kehidupan babi dan kambing kompleks juga di animal farm.
Chapter favoritku itu pas dia bahas tentang horizontal relationship dan the courage to be normal. konsep horizontal relationship menurutku fascinating banget, simple tapi nggak mudah buat dilakuin. The courage to be normal juga keren! Karena manusia emang cenderung berusaha menemukan identitas yang membedakannya dari manusia lain. Dan jadi normal tuh gapapa sebenernya, kalaupun kita mati dan nama kita nggak tertulis di buku sejarah juga nggak apa-apa.
Beberapa views dia yang aku suka:
• All problems are interpersonal problems.
• Horizontal relationship, instead of vertical ones.
• Life is not a competition—it takes courage to be normal
• Self-acceptance instead of self-affirmation
• We do not lack ability. We just lack courage.
"Life in general has no meaning, whatever meaning life has must be assigned to it by the individual."
Buku ini disajikan dengan dialog naratif yg ala socrates gitu (approach yang bagus karena kalo nggak gini aku nggak bakal tertarik untuk baca, teleology adler berseberangan banget sama aku yg ternyata lebih ke-"freud").
Awalnya bakal banyak bgt denial sih, apalagi Adler itu kayak... lack of emphaty.. mungkin, istilahnya. misal, dia nggak mengiyakan tentang trauma. kayak iya trauma memang eksis tapi itu lagi-lagi adalah coping mechanism kamu sendiri, jadi apapun yang kamu rasain, no matter how much it tortures you, you will always be the one to blame. Dia penganut free will garis keras (menurutku), dan dia yakin manusia itu bisa berubah, cuma mereka aja yang sebenernya nggak pengen melakukannya.
Sebenernya hidup itu simpel, katanya, kita aja yang bikin rumit. Lagi-lagi aku ga setuju sama Adler. hidup nggak simpel sih... unless you're a pig or a goat... meski kehidupan babi dan kambing kompleks juga di animal farm.
Chapter favoritku itu pas dia bahas tentang horizontal relationship dan the courage to be normal. konsep horizontal relationship menurutku fascinating banget, simple tapi nggak mudah buat dilakuin. The courage to be normal juga keren! Karena manusia emang cenderung berusaha menemukan identitas yang membedakannya dari manusia lain. Dan jadi normal tuh gapapa sebenernya, kalaupun kita mati dan nama kita nggak tertulis di buku sejarah juga nggak apa-apa.
Beberapa views dia yang aku suka:
• All problems are interpersonal problems.
• Horizontal relationship, instead of vertical ones.
• Life is not a competition—it takes courage to be normal
• Self-acceptance instead of self-affirmation
• We do not lack ability. We just lack courage.
"Life in general has no meaning, whatever meaning life has must be assigned to it by the individual."