Take a photo of a barcode or cover
A review by blackferrum
The School for Good Mothers by Jessamine Chan
dark
emotional
inspiring
lighthearted
reflective
tense
slow-paced
- Plot- or character-driven? Character
- Strong character development? Yes
- Diverse cast of characters? Yes
- Flaws of characters a main focus? Yes
3.75
Waktu baca judulnya, refleks bertanya, "Memangnya ada, ya, sekolah parenting?". Selama ini menjadi orang tua nggak ada manualnya. Memang ada beberapa hal yang bisa dipelajari melalui buku atau seminar, bahkan pengalaman orang lain. Namun, penerapannya tetap kondisional. Maka dari itu, sekolah? Ilustrasi sampulnya juga nggak membantu mencerahkan. Malah terkesan memberikan impresi jika buku ini bergenre thriller.
Well, it thrilled me, indeed.
Frida kehilangan hak asuh anak satu-satunya, Harriet, karena dianggap lalai setelah meninggalkannya sendirian di rumah selama dua jam lebih. Berbagai upaya selama persidangan dilakukan dan Frida tetap terancam tidak bisa bertemu putrinya kembali. Dia diharuskan mengikuti serangkaian pelajaran di sekolah milik pemerintah selama satu tahun. Tanpa interaksi dengan dunia luar sama sekali.
Kedengaran mengerikan memang. Dikurung di sebuah sekolah, meskipun diberi fasilitas yang cukup layak, Frida dan para ibu bermasalah lain, tak ubahnya tengah menghuni sebuah penjara. Setiap hari diharuskan mengikuti pelajaran demi pelajaran bersama boneka balita yang dibentuk mirip dengan anak masing-masing. Melakukan tes di setiap akhir materi untuk memperlihatkan apakah para ibu dinilai sudah mampu menjadi "ibu yang baik" bagi anak-anak mereka ketika keluar nanti. Dengan catatan: harus lulus dengan nilai sempurna dan tidak ada kesalahan.
Hidup di sekolah ini memang neraka. Ibu "dipaksa" memahami materi dan gilanya sedikit kesalahan akan berimbas pada kesempatan yang diberi kan untuk melakukan panggilan video dengan anak masing-masing.
Sepanjang baca rasanya stres banget. Mulai dari proses prapengadilan yang mengharuskan Frida melakukan kunjungan terbatas sembari diawasi dan dinilai sebagai pertimbangan hakim nantinya. Yang bikin marah, kelakuan pengawasnya yang seenak udel batalin jadwal, ngatur jadwal baru tanpa koordinasi dengan Frida, dan suka ngaret waktu pengawasan. Bagi si pengawas, apa pun usaha Frida tetap nggak cukup. Dia sudah menorehan noda permanen yang nggak akan hilang sampai kapan pun.
Buku ini dipenuhi sisi emosional seorang Frida. Ibu yang hanya berharap bisa hidup bersama anak semata wayangnya, satu-satunya harapan ketika suaminya memilih hidup dengan wanita lain. Maka dari itu, banyak emosi yang tumpah ketika harus mengikuti perasaan Frida selama masa "penghakiman".
Soal sekolah, seperti yang disebutkan sebelumnya, sistemnya bagus kalau dilihat lagi, tapi caranya agak kejam. Kupikir beberapa kali mengumpat dalam hati karena para ibu nggak diberikan kelonggaran. Jadi, ya, harus lurus dengan aturan. Seolah sekolah itu punya mgganual saklek yang harus dihafal dan diterapkan oleh semua ibu, tanpa melihat kondisi lingkungan masing-masing.
Bagian awal memang panjang, apalagi emosi Frida digambarkan dengan detail. Rasanya penulis ingin mengajak para pembaca menjadi Frida di sepanjang alur cerita. Makanya, berpotensi bikin bosan. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa sampai di bagian yang bikin geleng-geleng kepala, menangis, dan segala emosi buruk lain.
Satu hal dari buku ini yang sampai sekarang kuingat dan tertegun ketika membacanya: Anak selalu mengikuti apa yang orang tua lakukan. Selama pelatihan di sekolah, para ibu diberikan boneka tiruan anak mereka. Ibarat wadah baru, isinya masih kosong. Para boneka mengisi wadah itu dengan apa yang para ibu lakukan, entah berupa perilaku atau sekadar emosi dan ekspresi ketika dihadapkan pada suatu kejadian.
Jika orang tua merefleksikan traumanya, maka si anak akan menyerap dan bukannya mustahil nanti akan menjadikan trauma itu sebagai respons refleks.
Buku ini bagus banget. Isinya seolah mengkritik penanganan pada ibu yang "bermasalah", sederet peraturan mengekang dan nggak punya solusi konkret, dan lain-lain. Ending-nya kurasa sah-sah saja, mengingat perlakuan negara bagian ke Frida selama "hari nahas" (sebutan Frida di hari dia meninggalkan Harriet), walaupun nggak bisa dijadikan pembenaran.
You should read this book once a life.
Ps: better beli fisiknya kalau ada budget karena tulisannya kecil banget dibaca di ponsel hihi
Pss: Buat Gust, walaupun kamu baik dan masih tanggung jawab sama anak dan mantan istri, tetep aja kelakuanmu jahat. BANGET!
Well, it thrilled me, indeed.
Frida kehilangan hak asuh anak satu-satunya, Harriet, karena dianggap lalai setelah meninggalkannya sendirian di rumah selama dua jam lebih. Berbagai upaya selama persidangan dilakukan dan Frida tetap terancam tidak bisa bertemu putrinya kembali. Dia diharuskan mengikuti serangkaian pelajaran di sekolah milik pemerintah selama satu tahun. Tanpa interaksi dengan dunia luar sama sekali.
Kedengaran mengerikan memang. Dikurung di sebuah sekolah, meskipun diberi fasilitas yang cukup layak, Frida dan para ibu bermasalah lain, tak ubahnya tengah menghuni sebuah penjara. Setiap hari diharuskan mengikuti pelajaran demi pelajaran bersama boneka balita yang dibentuk mirip dengan anak masing-masing. Melakukan tes di setiap akhir materi untuk memperlihatkan apakah para ibu dinilai sudah mampu menjadi "ibu yang baik" bagi anak-anak mereka ketika keluar nanti. Dengan catatan: harus lulus dengan nilai sempurna dan tidak ada kesalahan.
Hidup di sekolah ini memang neraka. Ibu "dipaksa" memahami materi dan gilanya sedikit kesalahan akan berimbas pada kesempatan yang diberi kan untuk melakukan panggilan video dengan anak masing-masing.
Sepanjang baca rasanya stres banget. Mulai dari proses prapengadilan yang mengharuskan Frida melakukan kunjungan terbatas sembari diawasi dan dinilai sebagai pertimbangan hakim nantinya. Yang bikin marah, kelakuan pengawasnya yang seenak udel batalin jadwal, ngatur jadwal baru tanpa koordinasi dengan Frida, dan suka ngaret waktu pengawasan. Bagi si pengawas, apa pun usaha Frida tetap nggak cukup. Dia sudah menorehan noda permanen yang nggak akan hilang sampai kapan pun.
Buku ini dipenuhi sisi emosional seorang Frida. Ibu yang hanya berharap bisa hidup bersama anak semata wayangnya, satu-satunya harapan ketika suaminya memilih hidup dengan wanita lain. Maka dari itu, banyak emosi yang tumpah ketika harus mengikuti perasaan Frida selama masa "penghakiman".
Soal sekolah, seperti yang disebutkan sebelumnya, sistemnya bagus kalau dilihat lagi, tapi caranya agak kejam. Kupikir beberapa kali mengumpat dalam hati karena para ibu nggak diberikan kelonggaran. Jadi, ya, harus lurus dengan aturan. Seolah sekolah itu punya mgganual saklek yang harus dihafal dan diterapkan oleh semua ibu, tanpa melihat kondisi lingkungan masing-masing.
Bagian awal memang panjang, apalagi emosi Frida digambarkan dengan detail. Rasanya penulis ingin mengajak para pembaca menjadi Frida di sepanjang alur cerita. Makanya, berpotensi bikin bosan. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa sampai di bagian yang bikin geleng-geleng kepala, menangis, dan segala emosi buruk lain.
Satu hal dari buku ini yang sampai sekarang kuingat dan tertegun ketika membacanya: Anak selalu mengikuti apa yang orang tua lakukan. Selama pelatihan di sekolah, para ibu diberikan boneka tiruan anak mereka. Ibarat wadah baru, isinya masih kosong. Para boneka mengisi wadah itu dengan apa yang para ibu lakukan, entah berupa perilaku atau sekadar emosi dan ekspresi ketika dihadapkan pada suatu kejadian.
Jika orang tua merefleksikan traumanya, maka si anak akan menyerap dan bukannya mustahil nanti akan menjadikan trauma itu sebagai respons refleks.
Buku ini bagus banget. Isinya seolah mengkritik penanganan pada ibu yang "bermasalah", sederet peraturan mengekang dan nggak punya solusi konkret, dan lain-lain. Ending-nya kurasa sah-sah saja, mengingat perlakuan negara bagian ke Frida selama "hari nahas" (sebutan Frida di hari dia meninggalkan Harriet), walaupun nggak bisa dijadikan pembenaran.
You should read this book once a life.
Ps: better beli fisiknya kalau ada budget karena tulisannya kecil banget dibaca di ponsel hihi
Pss: Buat Gust, walaupun kamu baik dan masih tanggung jawab sama anak dan mantan istri, tetep aja kelakuanmu jahat. BANGET!