Scan barcode
A review by aynsrtn
Murder at Shijinso by Masahiro Imamura
dark
mysterious
tense
medium-paced
- Plot- or character-driven? Plot
4.5
Apakah ini pembunuhan berkedok zombie atau invasi zombie berkedok pembunuhan? Novel yang menggabungkan misteri pembunuhan dalam ruang tertutup berganda dan invasi wabah zombie.
Dalam cerita misteri thriller pembunuhan terdapat 3 konsep yaitu whodunnit—siapa pelakunya, whydunnit—mengapa melakukannya [motif pelaku], dan howdunnit—bagaimana melakukannya [trik pembunuhan]. Dan novel ini berisi ketiganya.
Peringatan pemicu: mengandung kekerasan, grafik pembunuhan yang sadis, darah, dan bunuh diri.
Berkisah tentang Hamura, seorang mahasiswa sekaligus pencinta misteri, diajak oleh kakak tingkatnya, Akechi, untuk ikut kegiatan klub film kampus ke sebuah vila bernama Shijinso. Mereka akan membuat sebuah dokumenter "uji nyali" horor di sebuah hotel tak terpakai di dekat vila Shijinso. Ternyata ada misteri dan teka-teki yang menyelebungi kegiatan itu. Mulai dari seorang mahasiswi yang bunuh diri dan sosok yang tidak diketahui siapa muncul di dokumenter klub film tahun lalu. Tetapi, semua rencana itu berantakan karena mereka dikepung oleh para zombie. Mereka terjebak di vila "orang mati". Dan terjadilah pembunuhan di sana.
Dari segi premis cukup unik. Meski di awal agak sedikit lambat "panasnya" karena tidak tahu apa yang menjadi fokus utama dari para tokoh di novel ini. Bayangkan kamu terjebak di antara para zombie, tetapi yang kamu pikirkan adalah malah memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di dalamnya. Pembunuhan yang seolah "memfitnah" zombie sebagai pelakunya.
Namun, perlahan semua terjawab. Tiga konsep itu pun dikemas baik di sini. Yang membuatku cukup tercengang di konsep howdunnit-nya. Sungguh keberadaan zombie malah menjadi "berkah" bagi pelaku.
Karena tokoh-tokoh di sini kebanyakan anggota klub film, maka dibahas juga tentang film-film bertema zombie [aku mencatat rekomendasi filmnya], sejarah zombie, bahkan sampai filosofi zombie bagi setiap karakter di novel ini.
Analogi Homles-Watson di sini untuk hubungan Akechi-Hamura dan Kenzaki-Hamura, seperti sudah saling memperebutkan Watson. Tapi, sayangnya porsinya tidak seimbang, ya karena [redacted].
Dan karena ini dari sudut pandang Hamura [ada juga dari sudut pandang seseorang yang lain, tapi sangat sedikit] sehingga tokoh-tokoh yang lain kurang tereksplor karakternya. Terus setiap ada yang mati, seperti yasudah lewat saja. Ini bukan genre survival sih, lebih menekankan ke penyelesaian teka-teki pembunuhan ala detektif [tapi masih mahasiswa]. Serta masih gantung di bagian wabah zombie. Mungkin karena ya seperti disebutkan barusan, ini lebih ke "pembunuhan di shijinso" jadi aku melihat zombie-nya hanya sekadar daya tarik untuk menambah ketegangan saja.
Meski begitu, novel ini cukup sangat bisa ku nikmati. Pembunuhan di ruang tertutup apalagi ditambah teror zombie, sangat direkomendasikan bagi para pencinta novel thriller detective.
Dalam cerita misteri thriller pembunuhan terdapat 3 konsep yaitu whodunnit—siapa pelakunya, whydunnit—mengapa melakukannya [motif pelaku], dan howdunnit—bagaimana melakukannya [trik pembunuhan]. Dan novel ini berisi ketiganya.
Peringatan pemicu: mengandung kekerasan, grafik pembunuhan yang sadis, darah, dan bunuh diri.
Berkisah tentang Hamura, seorang mahasiswa sekaligus pencinta misteri, diajak oleh kakak tingkatnya, Akechi, untuk ikut kegiatan klub film kampus ke sebuah vila bernama Shijinso. Mereka akan membuat sebuah dokumenter "uji nyali" horor di sebuah hotel tak terpakai di dekat vila Shijinso. Ternyata ada misteri dan teka-teki yang menyelebungi kegiatan itu. Mulai dari seorang mahasiswi yang bunuh diri dan sosok yang tidak diketahui siapa muncul di dokumenter klub film tahun lalu. Tetapi, semua rencana itu berantakan karena mereka dikepung oleh para zombie. Mereka terjebak di vila "orang mati". Dan terjadilah pembunuhan di sana.
Dari segi premis cukup unik. Meski di awal agak sedikit lambat "panasnya" karena tidak tahu apa yang menjadi fokus utama dari para tokoh di novel ini. Bayangkan kamu terjebak di antara para zombie, tetapi yang kamu pikirkan adalah malah memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di dalamnya. Pembunuhan yang seolah "memfitnah" zombie sebagai pelakunya.
Namun, perlahan semua terjawab. Tiga konsep itu pun dikemas baik di sini. Yang membuatku cukup tercengang di konsep howdunnit-nya. Sungguh keberadaan zombie malah menjadi "berkah" bagi pelaku.
Karena tokoh-tokoh di sini kebanyakan anggota klub film, maka dibahas juga tentang film-film bertema zombie [aku mencatat rekomendasi filmnya], sejarah zombie, bahkan sampai filosofi zombie bagi setiap karakter di novel ini.
Analogi Homles-Watson di sini untuk hubungan Akechi-Hamura dan Kenzaki-Hamura, seperti sudah saling memperebutkan Watson. Tapi, sayangnya porsinya tidak seimbang, ya karena [redacted].
Dan karena ini dari sudut pandang Hamura [ada juga dari sudut pandang seseorang yang lain, tapi sangat sedikit] sehingga tokoh-tokoh yang lain kurang tereksplor karakternya. Terus setiap ada yang mati, seperti yasudah lewat saja. Ini bukan genre survival sih, lebih menekankan ke penyelesaian teka-teki pembunuhan ala detektif [tapi masih mahasiswa]. Serta masih gantung di bagian wabah zombie. Mungkin karena ya seperti disebutkan barusan, ini lebih ke "pembunuhan di shijinso" jadi aku melihat zombie-nya hanya sekadar daya tarik untuk menambah ketegangan saja.
Meski begitu, novel ini cukup sangat bisa ku nikmati. Pembunuhan di ruang tertutup apalagi ditambah teror zombie, sangat direkomendasikan bagi para pencinta novel thriller detective.
Graphic: Death, Violence, and Murder
Moderate: Suicide