Take a photo of a barcode or cover
ayacchi 's review for:
A Tale of Two Cities
by Charles Dickens
Terkadang kita perlu mengintip akhir sebuah cerita agar bisa melihat sesuatu dengan lebih baik dan menilai seseorang dengan lebih tepat. Membaca fiksi sejarah klasik bukanlah perkara yang mudah. Kata-katanya yang indah, setting cerita yang sudah terkubur waktu, alur dan perkembangan cerita yang lambat. Ditambah lagi, ada beberapa bagian, yang meskipun penggambarannya sangat gamblang dan bisa ditelusuri benang merahnya, sayangnya masih tetap membingungkan untuk otak lemahku ini.
Itulah yang membuatku akhirnya mencari tahu di internet, dan tahu-tahu aku diantarkan sampai ke akhirnya. Tapi mendapat spoiler dengan kemauan pribadi, apalagi untuk sebuah kisah klasik, tidak membuatku kehilangan hasrat untuk terus lanjut membacanya, tidak seperti dalam kasus kisah misteri. Seandainya aku tidak membaca spoiler itu, kurasa aku akan menganggap buku ini sebagai buku yang biasa saja dan tidak begitu berarti, yang akan segera kulupakan karena aku tidak terlalu paham dengan pesan-pesan tersembunyinya.
Buku ini mengingatkanku bahwa manusia itu makhluk yang unik, yang perilakunya tidak bakal habis untuk dipelajari. Di sini kita bisa melihat betapa apa yang nampak di luar tidak serta merta mencerminkan jati diri seseorang.
Sidney Carton. Dia harus disebutkan paling pertama, biar namanya makin dikenang orang karena memang pantas mendapatkannya. Seorang pengacara yang suka mabuk-mabukan dan hidup serampangan. Saking buruk caranya menjalani hidup, dia sudah pasrah dan tidak mau susah-susah bertobat. Tapi dibalik sikapnya itu, dia adalah sosok sahabat yang sangat baik, yang rela mengorbankan nyawanya sendiri agar wanita yang dicintainya bisa hidup dengan suami dan keluarganya.
Therese Defarge. Digambarkan sebagai wanita perajut yang hanya diam saja mengamati perubahan zaman, ternyata wanita yang hatinya penuh dendam kesumat dan tanpa belas kasih. Aku sempat kaget saat membaca katanya dia adalah tokoh antagonis. Baru setelah lanjut membaca kisahnya, aku sadar betapa benarnya pernyataan itu. Akhir yang dia dapatkan juga di luar dugaan. Tapi kurasa itu yang terbaik.
Mr. Stryver. Pengacara tua dan gendut rekan Carton. Gayanya seperti seorang pembela keadilan, tapi ternyata dia sangat angkuh. Dia jatuh hati pada Lucie dan ingin meminangnya, dipikirnya itu akan membuat hidup gadis itu beruntung. Begitu ditolak, dia membual bahwa Lucie lah yang mengejar-ngejar dia.
Itulah yang membuatku akhirnya mencari tahu di internet, dan tahu-tahu aku diantarkan sampai ke akhirnya. Tapi mendapat spoiler dengan kemauan pribadi, apalagi untuk sebuah kisah klasik, tidak membuatku kehilangan hasrat untuk terus lanjut membacanya, tidak seperti dalam kasus kisah misteri. Seandainya aku tidak membaca spoiler itu, kurasa aku akan menganggap buku ini sebagai buku yang biasa saja dan tidak begitu berarti, yang akan segera kulupakan karena aku tidak terlalu paham dengan pesan-pesan tersembunyinya.
Buku ini mengingatkanku bahwa manusia itu makhluk yang unik, yang perilakunya tidak bakal habis untuk dipelajari. Di sini kita bisa melihat betapa apa yang nampak di luar tidak serta merta mencerminkan jati diri seseorang.
Spoiler
Sidney Carton. Dia harus disebutkan paling pertama, biar namanya makin dikenang orang karena memang pantas mendapatkannya. Seorang pengacara yang suka mabuk-mabukan dan hidup serampangan. Saking buruk caranya menjalani hidup, dia sudah pasrah dan tidak mau susah-susah bertobat. Tapi dibalik sikapnya itu, dia adalah sosok sahabat yang sangat baik, yang rela mengorbankan nyawanya sendiri agar wanita yang dicintainya bisa hidup dengan suami dan keluarganya.
Therese Defarge. Digambarkan sebagai wanita perajut yang hanya diam saja mengamati perubahan zaman, ternyata wanita yang hatinya penuh dendam kesumat dan tanpa belas kasih. Aku sempat kaget saat membaca katanya dia adalah tokoh antagonis. Baru setelah lanjut membaca kisahnya, aku sadar betapa benarnya pernyataan itu. Akhir yang dia dapatkan juga di luar dugaan. Tapi kurasa itu yang terbaik.
Mr. Stryver. Pengacara tua dan gendut rekan Carton. Gayanya seperti seorang pembela keadilan, tapi ternyata dia sangat angkuh. Dia jatuh hati pada Lucie dan ingin meminangnya, dipikirnya itu akan membuat hidup gadis itu beruntung. Begitu ditolak, dia membual bahwa Lucie lah yang mengejar-ngejar dia.