Scan barcode
A review by aynsrtn
Semasa by Maesy Ang, Teddy W. Kusuma
emotional
lighthearted
reflective
medium-paced
4.0
... mereka tidak hendak menghabiskan hidupnya dengan hanya merawat kenangan, tapi juga membuat kenangan-kenangan baru setiap hari. - p. 148
Sachi dan Coro, dua sepupu, yang mengantarkan orangtuanya Rumah Pandanwangi—rumah yang penuh kenangan semasa mereka kecil—untuk terakhir kalinya sebelum rumah itu dijual. Namun, dilema pun terjadi. Antara mempertahankan kenangan dan nostalgia atau memilih hidup yang terus melangkah maju.
Narasi nostalgia dari sudut pandang Coro sungguh membuatku jadi turut mengenang rumah masa kecilku dulu. Keresahan, kemurungan, kesepian, dan kehampaan yang dirasakan oleh Coro begitu baik dituliskan. Apalagi ketika kenangan-kenangannya turut datang silih berganti. Hubungannya dengan Sachi yang merenggang ketika dewasa, "kehilangan" Sachi yang pergi jauh dan bahkan tidak hadir di momen penting Coro, fase-fase seperti itu sangat relate dengan dunia orang dewasa. Terlalu sibuk dengan pelik dan dunianya sendiri.
Dinamika Bapak dan Coro pun tak kalah "menghangatkan" hati. Benar kata Coro, hubungan ayah dengan anak laki-laki itu rumit. Apalagi ketika mereka sama-sama menyimpan duka. Dan yang aku suka adalah penyelesaian konfliknya realistis.
Bagus. Sangat sentimentil dan menggugah nuansa nostalgia. Tipikal buku slice of life yang dapat dibaca dalam satu kali duduk.
Sachi dan Coro, dua sepupu, yang mengantarkan orangtuanya Rumah Pandanwangi—rumah yang penuh kenangan semasa mereka kecil—untuk terakhir kalinya sebelum rumah itu dijual. Namun, dilema pun terjadi. Antara mempertahankan kenangan dan nostalgia atau memilih hidup yang terus melangkah maju.
Narasi nostalgia dari sudut pandang Coro sungguh membuatku jadi turut mengenang rumah masa kecilku dulu. Keresahan, kemurungan, kesepian, dan kehampaan yang dirasakan oleh Coro begitu baik dituliskan. Apalagi ketika kenangan-kenangannya turut datang silih berganti. Hubungannya dengan Sachi yang merenggang ketika dewasa, "kehilangan" Sachi yang pergi jauh dan bahkan tidak hadir di momen penting Coro, fase-fase seperti itu sangat relate dengan dunia orang dewasa. Terlalu sibuk dengan pelik dan dunianya sendiri.
Dinamika Bapak dan Coro pun tak kalah "menghangatkan" hati. Benar kata Coro, hubungan ayah dengan anak laki-laki itu rumit. Apalagi ketika mereka sama-sama menyimpan duka. Dan yang aku suka adalah penyelesaian konfliknya realistis.
Bagus. Sangat sentimentil dan menggugah nuansa nostalgia. Tipikal buku slice of life yang dapat dibaca dalam satu kali duduk.