Scan barcode
A review by aynsrtn
Rest Area by Niallgina
hopeful
lighthearted
reflective
tense
medium-paced
- Plot- or character-driven? Character
- Strong character development? Yes
4.5
"Mobil aja butuh tempat istirahat setelah perjalanan jauh di jalan tol yang mulus. Entah bensinnya habis, sopirnya berubah ngantuk, atau lo harus ke toilet yang merupakan hal lebih prioritas dibanding ngelanjutin perjalanan. Sama kayak hubungan lo. Punya satu sama lain selama 11 tahun, sama-sama jadi dewasa, mindset sama-sama berubah, values berubah, dan punya hal lain yang lebih prioritas dibanding perjalanan 11 tahun lo ini. Lo juga butuh rest area." - p. 182
Buku kedua karya Niallgina yang selesai ku baca setelah Trending Topic [TT]. Dan aku seperti bisa menangkap pola yang dibangun sang penulis, selalu ada "pesan" yang ingin disampaikan. Jika TT berkisah tentang dunia selebritas yang dipadupadankan dengan psikologi. Sementara, untuk Rest Area [RA], konflik dan situasinya malah lebih dekat dan nyata. Tentang sepasang kekasih yang bertumbuh bersama dan seiring dengan kebersamaan itu, timbul jengah dan jenuh. Lalu, memutuskan untuk menghentikanâmemberi jeda.
Raihan dan Indira telah berpacaran selama 11 tahun. Bayangkan 11 tahun. Antara jagain jodoh orang atau jagain jodoh sendiri. Mereka pacaran sejak kelas 1 SMP. Satu SMP, satu SMA, LDR Jakarta-Bandung saat kuliah, dan lulus menjadi fresh graduate dan mulai menapaki fase dewasa. Fase ini yang membuat mereka sering berargumen dan berdebat untuk memenangkan ego masing-masing. Raihan yang mempertahankan idealismenya dan Indira yang memperjuangkan passion-nya.
[-]
Banyak typo. Ada kalimat yang sebenarnya nyambung, malah ke-enter kebawah. Beberapa spasinya ganda. Jadi kesannya di beberapa bagian nggak rapi.
[+]
1. Penceritaan dan Karakter
Alurnya maju mundur. Di mana yang "maju" menggunakan judul chapter sesuai dengan kilometernya [KM]. Sementara yang "mundur" berdasarkan tahun [2011-2021]. Dan terasa character development dua tokoh protagonisnya. Pas 2011-2014 konfliknya masih konflik bocil SMP. Cinta monyet yang rela nurunin nilai placement test bahasa inggris agar bisa sekelas EF sama yayangnya, duh. Pas 2015-2017 konfliknya SMA tuh udah masuk remaja. Sekarang gantian, yayangnya pindah urutan sekolah agar bisa satu SMA sama kekasihnya, aduh ... aduh, so high school. Pas kuliah mulai rada berat nih, LDR Jakarta-Bandung ... ada yang rela potong rambut [padahal udah aa bandung skena banget modelannya] demi sang kekasih. Nah, GONG-nya pas udah sama-sama lulus kuliah.
Jelas semakin bertambah usia, masalah pun jadi makin kompleks dan tentu saja berat. Demikian dengan Raihan dan Indira. Sangat relate banget case-nya untuk para fresh graduate. Penulisnya jago banget bikin hatiku terobok-obok pas mereka berantem perihal passion dan idealisme. Nggak bisa kesel ke salah satu. Porsinya pas. Keduanya punya concern masing-masing. Tense-nya pun dapet banget. Pas bagian mereka mulai "dingin" hingga akhirnya [redacted], ku ikut sedih kek berasa diri ini yang kehilangan :""
2. Sub-plot
Nah, kehadiran Reino dan Andara sebagai "bumbu" di kehidupan asmara Raihan dan Indira pun pas banget. Udah takut aja ada tendensi perselingkuhan, tapi wow ... jelas tidak mungkin! Buat cowok sebucin Raihan yang pas SMA jadi vokalis dan shout out pacarnya pake mic pas lagi di atas panggung biar seluruh sekolah tahu kalau Indira yang cantik tuh pacarnya Raihan, bro ... you're THE standard!
Justru kehadiran Reino dan Andara itu "menyadarkan" dua protagonisnya buat konsolidasi. Adegan Raihan tetiba ke rumah terus dikepung keluarga Indira tuh paling berkesan, hehe.
3. Scene tahun 2020
Ini sungguh realistis. Apalagi memasukkan cerita di tahun 2020. Siapa yang nggak merasakan peliknya di tahun itu. Udah siap aja muterin lagu Gala Bunga Matahari dan bener aja kan, ternyata ... hiks.
Well, akhir kata ... novel romansa yang character-driven. Membaca novel ini serasa "tumbuh" bersama dua tokoh utamanya.
Sukakkkk!! đ
Moderate: Death