Scan barcode
A review by aynsrtn
Downpour by Ghyna Amanda
emotional
lighthearted
mysterious
tense
fast-paced
- Plot- or character-driven? A mix
3.5
Pada paruh pertama, kita akan disajikan sajian khas cerita anak SMA yang tengah mengenal arti hidup dan juga cinta. Namun, di paruh kedua, bersiaplah. Apalagi bagi yang menyukai ending yang cliffhanger/angst/[kinda] sad ending, maka ini cocok untukmu.
Yulenka atau akrab disapa Julia menjalani masa SMA dengan penuh "tantangan". Sebelumnya, ia menjalani homescholling dan tak memiliki teman sebaya. Di masa adaptasi dia di sekolah, Julia bertemu dengan Regulus, yang berwajah seperti rubah gurun. Setiap bersama Regulus selalu turun hujan. Dari hujan yang membawa kasmaran, hingga hujan yang membawa luka.
Saat membaca ini dibuat penasaran. Sebenarnya ceritanya akan seperti apa sih. Pas di pertengahan udah mulai terlihat. Makin-makin ke ujung, makin "melelahkan" ternyata. Dan ending-nya ... aku tercenung. Tidak ada closure, konklusi, sudah begitu saja. Mungkin agar terkesan realistis ya, kan cinta pertama tak selalu indah, tapi tidak menggantung juga. Sesungguhnya ending ini "baik" jika dibarengi dengan build up.
Di paruh kedua, fokusnya di situ-situ saja. Hingga nyaris nggak ada perkembangannya. Lalu, aku kira akan ada cerita tentang Ibu dan Ayah Julia, tapi tidak ada. Banyak yang bisa dieksplor sebenarnya. Sayang banget.
Yang aku suka adalah karakter Julia. Cara dia bercerita, berpikir, bertindak, itu khas anak SMA—coming of age—yang unik banget. Nggak terkesan kekanakan atau bahkan terlalu dewasa. Semuanya pas, tapi unik. Sedangkan, untuk Regulus, dia terlalu abu-abu. Karena sudut penceritaannya dari Julia, jadi Regulus terkotak pada si rubah gurun aja. Terakhir, scene hujan di taman baca itu duuh ... 💐💐
Yulenka atau akrab disapa Julia menjalani masa SMA dengan penuh "tantangan". Sebelumnya, ia menjalani homescholling dan tak memiliki teman sebaya. Di masa adaptasi dia di sekolah, Julia bertemu dengan Regulus, yang berwajah seperti rubah gurun. Setiap bersama Regulus selalu turun hujan. Dari hujan yang membawa kasmaran, hingga hujan yang membawa luka.
Saat membaca ini dibuat penasaran. Sebenarnya ceritanya akan seperti apa sih. Pas di pertengahan udah mulai terlihat. Makin-makin ke ujung, makin "melelahkan" ternyata. Dan ending-nya ... aku tercenung. Tidak ada closure, konklusi, sudah begitu saja. Mungkin agar terkesan realistis ya, kan cinta pertama tak selalu indah, tapi tidak menggantung juga. Sesungguhnya ending ini "baik" jika dibarengi dengan build up.
Di paruh kedua, fokusnya di situ-situ saja. Hingga nyaris nggak ada perkembangannya. Lalu, aku kira akan ada cerita tentang Ibu dan Ayah Julia, tapi tidak ada. Banyak yang bisa dieksplor sebenarnya. Sayang banget.
Yang aku suka adalah karakter Julia. Cara dia bercerita, berpikir, bertindak, itu khas anak SMA—coming of age—yang unik banget. Nggak terkesan kekanakan atau bahkan terlalu dewasa. Semuanya pas, tapi unik. Sedangkan, untuk Regulus, dia terlalu abu-abu. Karena sudut penceritaannya dari Julia, jadi Regulus terkotak pada si rubah gurun aja. Terakhir, scene hujan di taman baca itu duuh ... 💐💐
Graphic: Suicide, Violence, and Suicide attempt