Take a photo of a barcode or cover
palsayfara 's review for:
Please Look After Mom
by Kyung-sook Shin
Terus terang, saya membeli novel ini karena judul dan covernya.
Judulnya kok puitis banget, "Tolong Jaga Ibu".
Eh tapi saat membuka covernya, terpampang nyata di halaman awal tulisan "Please Look After Mom", lalu dibawahnya ditulis "Ibu Tercinta".
Jujur, saya langsung ilfil dan lalu meletakkan novel ini kembali. Sebab kalau judul di covernya "Ibu Tercinta", saya pasti nggak akan tertarik untuk membelinya..hehe
Seminggu kemudian, barulah saya baca novel ini, karena memang sudah kehabisan bahan bacaan.
Dan ternyata, sulit melepaskan novel ni sebelum benar-benar habis saya baca.
Bukunya tipis, cuma 293 halaman. Jadi tidak sampai setengah hari sudah saya selesaikan.
Dan seperti halnya drama Korea, novel Korea sama aja ya mellownya. Tapi kok saya malah sulit terharu, karena saya merasa dipaksa nangis, dan saya memang kurang bisa mengapresiasi kisah yang terlalu didramatisir. Mau itu produk Barat, India, Pakistan, Korea atau Indonesia.
Balik lagi ke review.
Novel ini menceritakan tentang seorang ibu (sudah sepuh dan sakit-sakitan) yang tertinggal di stasiun kereta di Seoul.
Saya bisa memahami kepanikan dan rasa bersalah keempat anaknya saat ibunya hilang. Juga perasaan suaminya atas kehilangan istrinya itu.
Mereka baru menyadari bahwa mereka tidak begitu mengenal atau memahami ibunya sendiri, karena sang ibu selalu terlihat kuat di mata anak-anak dan suaminya, sebab mengurus empat anak dan seorang suami.
Seluruh tulisan dalam novel ini adalah pengungkapan kesadaran akan berartinya kehadiran seorang ibu, mulai dari memenuhi kebutuhan makan seluruh keluarga, mencari penghasilan tambahan, berjuang agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, sampai memberikan dukungan mental spiritual kepada anak-anaknya sampai mereka berhasil menggapai mimpi-mimpinya.
Di sisi lain, terungkap pula isi hati sang ibu, perasaan-perasaannya, pergolakan batinnya, dan tentu saja rasa cintanya kepada anak-anak yang dibanggakannya.
Bahwa bagaimanapun seorang ibu hanya menginginkan kebahagiaan anak-anaknya, meski untuk itu ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Buku ini ditulis dengan gaya POV yang berpindah-pindah, namun tidak ditulis di atas babnya, paling tidak POV siapa, jadi pembaca harus pintar-pintar menebak. Nggak susah sih, cuma kalau lagi males mikir ya jadi skip-able aja gitu.
Judulnya kok puitis banget, "Tolong Jaga Ibu".
Eh tapi saat membuka covernya, terpampang nyata di halaman awal tulisan "Please Look After Mom", lalu dibawahnya ditulis "Ibu Tercinta".
Jujur, saya langsung ilfil dan lalu meletakkan novel ini kembali. Sebab kalau judul di covernya "Ibu Tercinta", saya pasti nggak akan tertarik untuk membelinya..hehe
Seminggu kemudian, barulah saya baca novel ini, karena memang sudah kehabisan bahan bacaan.
Dan ternyata, sulit melepaskan novel ni sebelum benar-benar habis saya baca.
Bukunya tipis, cuma 293 halaman. Jadi tidak sampai setengah hari sudah saya selesaikan.
Dan seperti halnya drama Korea, novel Korea sama aja ya mellownya. Tapi kok saya malah sulit terharu, karena saya merasa dipaksa nangis, dan saya memang kurang bisa mengapresiasi kisah yang terlalu didramatisir. Mau itu produk Barat, India, Pakistan, Korea atau Indonesia.
Balik lagi ke review.
Novel ini menceritakan tentang seorang ibu (sudah sepuh dan sakit-sakitan) yang tertinggal di stasiun kereta di Seoul.
Saya bisa memahami kepanikan dan rasa bersalah keempat anaknya saat ibunya hilang. Juga perasaan suaminya atas kehilangan istrinya itu.
Mereka baru menyadari bahwa mereka tidak begitu mengenal atau memahami ibunya sendiri, karena sang ibu selalu terlihat kuat di mata anak-anak dan suaminya, sebab mengurus empat anak dan seorang suami.
Seluruh tulisan dalam novel ini adalah pengungkapan kesadaran akan berartinya kehadiran seorang ibu, mulai dari memenuhi kebutuhan makan seluruh keluarga, mencari penghasilan tambahan, berjuang agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, sampai memberikan dukungan mental spiritual kepada anak-anaknya sampai mereka berhasil menggapai mimpi-mimpinya.
Di sisi lain, terungkap pula isi hati sang ibu, perasaan-perasaannya, pergolakan batinnya, dan tentu saja rasa cintanya kepada anak-anak yang dibanggakannya.
Bahwa bagaimanapun seorang ibu hanya menginginkan kebahagiaan anak-anaknya, meski untuk itu ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Buku ini ditulis dengan gaya POV yang berpindah-pindah, namun tidak ditulis di atas babnya, paling tidak POV siapa, jadi pembaca harus pintar-pintar menebak. Nggak susah sih, cuma kalau lagi males mikir ya jadi skip-able aja gitu.