A review by lihatlah
Piramid by Ismail Kadare

3.0

pembukaan novel ini meminta agar kita memandang piramid bukan melulu sebagai obyek, namun sebagai alat di mana kekuasaan beroperasi.
ketika cheops berniat menghentikan tradisi moyangnya dalam membangun piramid, serentak seluruh istana terkejut dan mencari dasar-dasar pembelaan mengapa struktur itu perlu selalu dibangun.
melalui penjelasan para pujangga yang menelisik dokumen-dokumen untuk membela perlunya firaun cheops melanjutkan tradisi membangun piramid kita diberi tahu bahwa piramid itu adalah alat untuk meluhurkan posisi raja [dengan merendahkan posisi rakyat].
kehendak membangun piramid itu lahir karena krisis, bukan krisis karena kekurangan tapi justru karena keberlimpahan, kemakmuran.
kemakmuran membuat rakyat mandiri dan berani membangkang pemerintah, dan satu-satunya cara untuk keluar dari krisis adalah menghilangkan kemakmuran. bisa dengan banjir, bencana alam, gempa bumi, perang,.... dan yang terakhir dan akhirnya terpilih adalah menyelenggarakan kerja raksasa yang melampaui imajinasi.
yang akan meletihkan rakyat, menghancurkan jiwa-raga, dan yang tidak ada manfaatnya bagi mereka....selain demi kekuasaan negara.
proyek raksasa itu bukan kuil atau istana, tapi makam. strtuktur tak berguna yang berfungsi sebagai pemenuhan kebesaran kekuasaan raja, yang dengan itu maka kebesarannya akan abadi.
"sebuah piramid, sebelum bermanfaat di akhirat, memiliki fungsi di dunia ini. dengan kata lain, sebelum menjelma demi ruh, menjelma demi tubuh", demikian ujar pendeta tertinggi hermiunu.
akhirnya,
piramid pun jadi dibangun, yang terbesar dan tertinggi dari yang pernah ada sebelumnya.

saya tidak tahu kapan novel ini ditulis, tapi melihat tahun penerbitan perdananya dalam bahasa prancis 1992, situasi dunia ketika penulisan novel ini sudah berlimpah sumber-sumber yang lengkap mengenai proses pembangunan sebuah piramid mesir. penulis menulis ulang dengan perspektif lain. atau lebih baik, ia menulis sesuatu yang lain melalui deskripsinya tentang piramida cheops. ia menulis tentang kekuasaan.

yang agak mengherankan saya, di novel ini proses perencanaan piramid diceritakan menggunakan gambar-gambar. demikian pula riset para pujangga ke perpustakaan mereka pun lari ke gambar-gambar piramid-piramid masa lalu mereka. benarkah gambar [di atas papirus] sudah menjadi alat produksi pembangunan di masa itu, sementara orang sumeria digambarkan masih membawa-bawa tablet lempungnya?
itu yg bikin aku ngerasa "enggak" terhadap buku ini karena mengisahkan cara membangun struktur raksasa 4000 tahun silam seperti orang membangun di masa kini.
tapi idenya menarik: memahami makna pembangunan sebagai upaya pelemahan rakyat dan sekaligus pemuliaan penguasa.