Take a photo of a barcode or cover
Gadis Kretek
Ratih Kumala
274 hlm
Gramedia Pustaka Utama
Tebak apa yang terbersit pertama kali di benakku pas selesai baca buku ini? Iya, aku pengen coba ngeses alias coba ngrokok. Hahaha pengen aja dan kayaknya ngga berani juga.
Penasaran aja dengan cerita yang disuguhkan di buku ini dan menjadikan rokok atau kretek atau klobot sebagai tokoh utamanya. Perjalanan Idroes Muria untuk menjemput cintanya Roemaisa, bersaing sengit mental dan otak dengan Soedjagad. Kemudian tahta persaingan begitu saja jatuh pada Jeng Yah, Soeraja dan Purwanti.
Menurut aku tipikal persaingan dalam dunia usaha di cerita ini nyata banget dan nggak heran kalo terjadi di dunia nyata yang licik ini. Tsahhh
Buku ini berada pada genre historical fiction yang ringan dibaca tapi isinya padat makna. Menjelaskan bahwa siapa saja bisa kapan saja menjadi kawan kemudian diam-diam melawan. Tentang cinta yang bisa serta merta menjadi racun pembunuh. Tentang kesetiaan. Hingga tentang tanggungjawab pada konsekuensi yang ada. Jujur aku puas banget sama cara Tegar, Karim dan Lebas dalam bertanggungjawab pada kesalahan Ayahnya.
Meskipun di dunia nyata akan mudah sekali jatuh cinta pada sosok Lebas, tapi untuk pendamping hidup aku akan memilih Mas Karim ajade~ HAHAHA
Ratih Kumala
274 hlm
Gramedia Pustaka Utama
Tebak apa yang terbersit pertama kali di benakku pas selesai baca buku ini? Iya, aku pengen coba ngeses alias coba ngrokok. Hahaha pengen aja dan kayaknya ngga berani juga.
Penasaran aja dengan cerita yang disuguhkan di buku ini dan menjadikan rokok atau kretek atau klobot sebagai tokoh utamanya. Perjalanan Idroes Muria untuk menjemput cintanya Roemaisa, bersaing sengit mental dan otak dengan Soedjagad. Kemudian tahta persaingan begitu saja jatuh pada Jeng Yah, Soeraja dan Purwanti.
Menurut aku tipikal persaingan dalam dunia usaha di cerita ini nyata banget dan nggak heran kalo terjadi di dunia nyata yang licik ini. Tsahhh
Buku ini berada pada genre historical fiction yang ringan dibaca tapi isinya padat makna. Menjelaskan bahwa siapa saja bisa kapan saja menjadi kawan kemudian diam-diam melawan. Tentang cinta yang bisa serta merta menjadi racun pembunuh. Tentang kesetiaan. Hingga tentang tanggungjawab pada konsekuensi yang ada. Jujur aku puas banget sama cara Tegar, Karim dan Lebas dalam bertanggungjawab pada kesalahan Ayahnya.
Meskipun di dunia nyata akan mudah sekali jatuh cinta pada sosok Lebas, tapi untuk pendamping hidup aku akan memilih Mas Karim ajade~ HAHAHA
Buku ini menceritakan kisah yang menarik lain dari pada biasanya, yaitu kisah pengusaha rokok kretek dari awal merintis bisnis kecil hingga menjadi sukses merajai negeri. Namun bagi saya ada yang mengganjal dari buku ini. Dengan periode waktu lebih dari setengah abad, kisah kretek di kota M diceritakan dengan sangat cepat sehingga konfliknya terasa kurang greget dan nanggung.
adventurous
challenging
funny
inspiring
reflective
sad
slow-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
Idroes Moeria jatuh cinta pada Roemaisa, putri sang Juru Tulis. Awalnya hanya seorang buruh linting rokok klobot, Idroes mulai memproduksi klobotnya sendiri sebagai modal untuk melamar Roemaisa. Pada saat itu pula, sahabat Idroes Moeria, Soedjagad, juga mengincar Roemaisa. Hal ini membuat keduanya bersaing nyaris terang-terangan, baik dalam memperebutkan cinta Roemaisa, maupun dalam menjadi pengusaha rokok tersukses di Kota M.
Gadis Kretek terutama berkisah tentang perjalanan industri rokok di Indonesia, selain tentang konflik percintaan, perjuangan, dan persaingan. Periodenya terentang mulai dari masa pendudukan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, tragedi 1965, hingga masa sekarang (tahun 2012, agaknya. Tahun pertama terbit buku ini). Dengan alur yang maju mundur dari dua sudut pandang di masa lalu dan masa kini, Ratih Kumala dengan mulus menjalin cerita tentang perjalanan hidup keluarga, rahasia kelam masa lalu, dan tentu saja, rokok: sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia hingga saat ini. Budaya Jawa-nya kental, walau karakter-karakternya, terutama para perempuannya, kurasa terlalu progresif untuk zaman itu. Percakapannya juga luwes, santai, tidak memaksakan lo-gue (yang aku sangat tidak suka).
Sayangnya di buku cetakan pertama yang kubaca ini, suntingannya tidak rapi dan cukup mengganggu, terutama pada bagian di mana nama tokoh tertukar-tukar di beberapa percakapan. Semoga di cetakan terbarunya, kesalahan-kesalahan ini sudah diperbaiki. Aku juga pertama kali membaca terjemahan Bahasa Inggrisnya, yang terasa kurang luwes dan terlalu diterjemahkan per kata.
Gadis Kretek terutama berkisah tentang perjalanan industri rokok di Indonesia, selain tentang konflik percintaan, perjuangan, dan persaingan. Periodenya terentang mulai dari masa pendudukan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, tragedi 1965, hingga masa sekarang (tahun 2012, agaknya. Tahun pertama terbit buku ini). Dengan alur yang maju mundur dari dua sudut pandang di masa lalu dan masa kini, Ratih Kumala dengan mulus menjalin cerita tentang perjalanan hidup keluarga, rahasia kelam masa lalu, dan tentu saja, rokok: sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia hingga saat ini. Budaya Jawa-nya kental, walau karakter-karakternya, terutama para perempuannya, kurasa terlalu progresif untuk zaman itu. Percakapannya juga luwes, santai, tidak memaksakan lo-gue (yang aku sangat tidak suka).
Sayangnya di buku cetakan pertama yang kubaca ini, suntingannya tidak rapi dan cukup mengganggu, terutama pada bagian di mana nama tokoh tertukar-tukar di beberapa percakapan. Semoga di cetakan terbarunya, kesalahan-kesalahan ini sudah diperbaiki. Aku juga pertama kali membaca terjemahan Bahasa Inggrisnya, yang terasa kurang luwes dan terlalu diterjemahkan per kata.
Terlepas dari segala aspek yang berhubungan dengan mbako dan perkembangan industri kretek di Indonesia, cerita ini membuatku sakit hati sekali. Aku sangat bersimpati dengan Jeng Yah. Aku sampai ngerasa hanteman tabung petromak nggak cukup buat orang itu.
Satu hal yang aku masih nggak bisa terima, kenapa orang-orang yang nyakitin Jeng Yah dan keluarga, bisa hidup kaya 7 turunan? Dengan bangga ngewarisin cerita palsu ke cucu-cucu. Di akhir, sudut pandang berbalik ke si keji. Membuatku memikirkan kehidupan Jeng Yah dan keluarga pada waktu itu pasca kejadian petromak. Gimana hancurnya hati Jeng Yah...dikhianati...
Karena aku berfokus pada masa lalu, kuagak nggak bisa nyambungi perjalanan ketiga Kakak-Adik ini. Atmosfernya rasanya bledos. Mungkin karena alurnya yang maju-mundur tanpa peringatan di awal. Ngerasa lost aja sama interaksinya. Baru ngerasa speechless pas mereka ketemu 'Jeng Yah' T_T
Part historical dari novel ini membekas banget. Runut nyeritain dari sejak Belanda masih ngejajah, sampai kejadian G30S PKI. Mungkin itu sebabnya aku ngerasa kurang 'nyambung' waktu alur maju ke masa sekarang :") Iam stuck.
Satu hal yang aku masih nggak bisa terima, kenapa orang-orang yang nyakitin Jeng Yah dan keluarga, bisa hidup kaya 7 turunan? Dengan bangga ngewarisin cerita palsu ke cucu-cucu. Di akhir, sudut pandang berbalik ke si keji. Membuatku memikirkan kehidupan Jeng Yah dan keluarga pada waktu itu pasca kejadian petromak. Gimana hancurnya hati Jeng Yah...dikhianati...
Karena aku berfokus pada masa lalu, kuagak nggak bisa nyambungi perjalanan ketiga Kakak-Adik ini. Atmosfernya rasanya bledos. Mungkin karena alurnya yang maju-mundur tanpa peringatan di awal. Ngerasa lost aja sama interaksinya. Baru ngerasa speechless pas mereka ketemu 'Jeng Yah' T_T
Part historical dari novel ini membekas banget. Runut nyeritain dari sejak Belanda masih ngejajah, sampai kejadian G30S PKI. Mungkin itu sebabnya aku ngerasa kurang 'nyambung' waktu alur maju ke masa sekarang :") Iam stuck.
emotional
funny
hopeful
inspiring
reflective
sad
medium-paced
Kesan pertama, kukira bakal butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan novel bergenre historical fiction ini. Ternyata cuma 2 hari aku mengisap buku ini karena ceritanya yang page turner. I highly recommended this book
adventurous
challenging
hopeful
informative
inspiring
medium-paced
Plot or Character Driven:
Plot
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
No
I've never really interested in reading historical fiction book, but now that it's adapted to a series, I just have the urge to read the book first and overall it's a great book! I have a high expectation for this book and it certainly meets my expectation.
I'm very disappointed that Jeng Yah (Dasiyah) has passed away a long time ago 😠because I'm very excited when they can finally met her. But anyways here's a couple of my favorite moments in this book
1. The banter between Lebas and tegar
2. The realization. I gasped when I realize the truth and put the piece together
3. The ending. I've just never really happy with the ending of a book because a lot of time they just meh
I'm very disappointed that Jeng Yah (Dasiyah) has passed away a long time ago 😠because I'm very excited when they can finally met her. But anyways here's a couple of my favorite moments in this book
1. The banter between Lebas and tegar
2. The realization. I gasped when I realize the truth and put the piece together
3. The ending. I've just never really happy with the ending of a book because a lot of time they just meh