Take a photo of a barcode or cover
adventurous
challenging
dark
emotional
sad
slow-paced
Plot or Character Driven:
Plot
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Buku dari Ahmad Tohari ini layak sekali mendapat bintang 5, dari mulai development karakternya sampai detail - detail kecil suasananya benar - benar luar biasa, jangan kaget ketika kamu baca ini, maka kamu akan merasakan apa yang penulis rasakan.
But please, saya rasa srintil berhak mendapatkan ending yang lebih baik.....
But please, saya rasa srintil berhak mendapatkan ending yang lebih baik.....
dark
emotional
reflective
tense
slow-paced
Plot or Character Driven:
Character
Strong character development:
Complicated
Loveable characters:
Complicated
dark
emotional
informative
sad
tense
slow-paced
Plot or Character Driven:
Character
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Complicated
Pertama kali yang terlintas di kepalaku setelah berhasil menyelesaikan buku ini adalah sebuah pertanyaan "kenapa?". Rasa-rasanya, sebetulnya kalau dilihat dari awal cerita bagaimana penggambaran Dukuh Paruk itu sendiri, hal yang terjadi di ending adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Cuma, karena ceritanya dibalut berdasarkan sudut pandang dua anak muda Dukuh Paruk yang mengambil jalan berbeda, jadinya terasa lebih suram. Singkatnya, bercerita tentang Dukuh Paruk yang hidup berlandaskan pemikiran dan peninggalan moyang mereka (Ki Secamenggala), mengantarkan Dukuh tersebut pada penekanan yang kumuh, kotor, cabul, dan bodoh. Termasuk budaya Ronggeng mereka, dengan Srintil yang menjadi tempat Indang Ronggeng memilih untuk menetap. Segala macam ketentuan dan syarat Srintil lakukan demi bisa menjadi seorang Ronggeng Dukuh Paruk yang utuh, mengabaikan eksistensi kehidupan lain yang bisa ia dapatkan dari seorang Rasus, teman sekaligus saudara satu Dukuh-nya. Maka dengan begitu, Rasus memutuskan pergi meninggalkan Dukuh Paruk dan menjadi seorang tentara, meninggalkan Srintil hingga sebuah kejadian dan banyaknya malapetaka hadir guna menyadarkan Dukuh Paruk dari kebodohannya.
(+) Ini menjadi buku pertama dari Pak Ahmad Tohari yang aku baca. Jujur butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan penulisan beliau, karena narasi yang disajikan, aku bisa bilang sangat amat berbeda dengan buku kebanyakan yang sudah aku baca. Penuh kosakata yang masih asing bagiku dan analogi yang sentimental, membuat aku jatuh cinta berkali-kali di tiap kalimat juga paragrafnya. Banyak sekali penyampaian yang terkesan gelap, tapi sangat lugas maksud dan tujuannya. Belum lagi detail-detail yang beliau sampaikan, entah dalam membangun suasana, deskripsi menganai latar tempat, juga tak hanya perihal manusia, Pak Ahmad Tohari memberikan perhatian penuh terhadap flora dan fauna-nya. Kalau berbicara soal alur dan perkembangan karakter, mungkin ini adalah penggambaran sebenar-benarnya manusia di dalam kehidupan nyata. Berpegang teguh pada apa yang menjadi kebiasaannya sejak baru lahir ke bumi dan ekspetasi-ekspetasi pembaca yang tidak bisa serta merta terpenuhi, karena pada dasarnya manusia memanglah tempatnya salah. Ada yang akhirnya hidup dengan penuh perhitungan seperti Rasus dan Srintil, adapula yang masih kerasan berlagak seenaknya sebab hanya itu yang mereka punya untuk bertahan hidup, seperti beberapa orang yang tinggal di Dukuh Paruk. Buku ini juga menyampaikan informasi mengenai situasi di tahun 1965 ketika PKI dan jejaknya, sedang marak-maraknya berusaha dihapuskan dari negara ini. Apalagi Srintil yang menjadi salah satu tahanan pada saat itu bersama gelar ronggengnya, berhasil membawa pembaca pada kengerian dan segala trauma yang ia alami.
(-) Buku ini sangat amat layak untuk dibaca, tapi mungkin bagi beberapa orang (termasuk aku), akan kesulitan masuk ke dalam cerita, sebab alur yang lambat di awal-awal halaman. Sehingga tak jarang membuat aku jadi capek sendiri. Namun pada akhirnya, aku menemukan titik di mana aku bertekad untuk melanjutkan cerita tersebut. Sekarang, aku jadi mengasihi Srintil dan Rasus sepenuhnya.
(=) Buku ini menggunakan sudut pandang orang ke-tiga, hingga menjelang akhir halaman, ia berpindah haluan menggunakan sudut pandang orang ke-satu yaitu milik Rasus. Suatu keputusan yang baik, sebab memahami tiap pergejolakan batin yang dialami pemuda itu jadi terasa lebih mudah dan menyayat hati. Penggambaran mengenai kebingungan Rasus, menurut aku pribadi bisa diterapkan pada kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan saat ini. Di mana, Rasus yang sangat mencintai tanah kelahirannya, pada akhirnya harus tetap melangkah pergi dengan pengharapan suatu hari nanti, entah kapan pastinya, tanah kelahiran tersebut bisa terlepas dari belenggu yang membuatnya dihujani bencana tiada henti. Belenggu yang telah menempel jauh sebelum Rasus lahir dari rahim seorang Ibu. Di buku ini juga memuat beberapa pandangan mengenai bagaimana perempuan seharusnya berdiri atas kebebasan yang dikehendakinya sendiri pada zaman itu dan akan terus berlaku hingga saat ini. Untuk endingnya, aku merasakan kekosongan yang sangat amat dalam. Mulai dari keadaan Srintil yang harus mengemban penderitaan itu jauh lebih banyak daripada siapapun, juga Rasus yang lagi-lagi harus bertumpu pada kekuatannya seorang diri.
(+) Ini menjadi buku pertama dari Pak Ahmad Tohari yang aku baca. Jujur butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan penulisan beliau, karena narasi yang disajikan, aku bisa bilang sangat amat berbeda dengan buku kebanyakan yang sudah aku baca. Penuh kosakata yang masih asing bagiku dan analogi yang sentimental, membuat aku jatuh cinta berkali-kali di tiap kalimat juga paragrafnya. Banyak sekali penyampaian yang terkesan gelap, tapi sangat lugas maksud dan tujuannya. Belum lagi detail-detail yang beliau sampaikan, entah dalam membangun suasana, deskripsi menganai latar tempat, juga tak hanya perihal manusia, Pak Ahmad Tohari memberikan perhatian penuh terhadap flora dan fauna-nya. Kalau berbicara soal alur dan perkembangan karakter, mungkin ini adalah penggambaran sebenar-benarnya manusia di dalam kehidupan nyata. Berpegang teguh pada apa yang menjadi kebiasaannya sejak baru lahir ke bumi dan ekspetasi-ekspetasi pembaca yang tidak bisa serta merta terpenuhi, karena pada dasarnya manusia memanglah tempatnya salah. Ada yang akhirnya hidup dengan penuh perhitungan seperti Rasus dan Srintil, adapula yang masih kerasan berlagak seenaknya sebab hanya itu yang mereka punya untuk bertahan hidup, seperti beberapa orang yang tinggal di Dukuh Paruk. Buku ini juga menyampaikan informasi mengenai situasi di tahun 1965 ketika PKI dan jejaknya, sedang marak-maraknya berusaha dihapuskan dari negara ini. Apalagi Srintil yang menjadi salah satu tahanan pada saat itu bersama gelar ronggengnya, berhasil membawa pembaca pada kengerian dan segala trauma yang ia alami.
(-) Buku ini sangat amat layak untuk dibaca, tapi mungkin bagi beberapa orang (termasuk aku), akan kesulitan masuk ke dalam cerita, sebab alur yang lambat di awal-awal halaman. Sehingga tak jarang membuat aku jadi capek sendiri. Namun pada akhirnya, aku menemukan titik di mana aku bertekad untuk melanjutkan cerita tersebut. Sekarang, aku jadi mengasihi Srintil dan Rasus sepenuhnya.
(=) Buku ini menggunakan sudut pandang orang ke-tiga, hingga menjelang akhir halaman, ia berpindah haluan menggunakan sudut pandang orang ke-satu yaitu milik Rasus. Suatu keputusan yang baik, sebab memahami tiap pergejolakan batin yang dialami pemuda itu jadi terasa lebih mudah dan menyayat hati. Penggambaran mengenai kebingungan Rasus, menurut aku pribadi bisa diterapkan pada kondisi masyarakat Indonesia kebanyakan saat ini. Di mana, Rasus yang sangat mencintai tanah kelahirannya, pada akhirnya harus tetap melangkah pergi dengan pengharapan suatu hari nanti, entah kapan pastinya, tanah kelahiran tersebut bisa terlepas dari belenggu yang membuatnya dihujani bencana tiada henti. Belenggu yang telah menempel jauh sebelum Rasus lahir dari rahim seorang Ibu. Di buku ini juga memuat beberapa pandangan mengenai bagaimana perempuan seharusnya berdiri atas kebebasan yang dikehendakinya sendiri pada zaman itu dan akan terus berlaku hingga saat ini. Untuk endingnya, aku merasakan kekosongan yang sangat amat dalam. Mulai dari keadaan Srintil yang harus mengemban penderitaan itu jauh lebih banyak daripada siapapun, juga Rasus yang lagi-lagi harus bertumpu pada kekuatannya seorang diri.
Graphic: Death, Gun violence, Sexual content
emotional
slow-paced
Plot or Character Driven:
Character
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
sad
tense
medium-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Complicated
dark
emotional
sad
tense
medium-paced
Plot or Character Driven:
Plot
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” tidak jauh dari nilai tradisional serta adat-istiadat. Nilai moral dipunya oleh masyarakat Dukuh Paruk tidaklah luas, karena miskinnya pengetahuan mereka punya. Kemeralatan kadang menjadi kebanggaan untuk mereka sendiri, hingga sesuatu yang lebih dianggap menjadi sebuah ‘kekayaan’ yang melimpah.
Adat-istiadat mereka punya dianggap tak bermoral, karena tak sesuai dengan nilai seharusnya ada. Itu menjadi petaka untuk mereka.
Itulah menjadi poin utama yang kuat dalam novel ini. Ahmad Tohari juga membawa sebuah peristiwa penting pada tahun 1960an hingga 1970an. Kritik sosial dalam novel ini disampaikan secara tersirat, tetapi kuat dan menusuk. Realita yang menyakitkan tak luput melalui seluruh kejadian dalam novel ini.
Poin kelebihan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” adalah bagaimana Ahmad Tohari bisa membawa masuk pembacanya dalam dunia buatannya melalui deskripsi alam Dukuh Paruk serta sekitarnya. Kita seakan ikut merasakan suasana alam tersebut.
Adat-istiadat mereka punya dianggap tak bermoral, karena tak sesuai dengan nilai seharusnya ada. Itu menjadi petaka untuk mereka.
Itulah menjadi poin utama yang kuat dalam novel ini. Ahmad Tohari juga membawa sebuah peristiwa penting pada tahun 1960an hingga 1970an. Kritik sosial dalam novel ini disampaikan secara tersirat, tetapi kuat dan menusuk. Realita yang menyakitkan tak luput melalui seluruh kejadian dalam novel ini.
Poin kelebihan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” adalah bagaimana Ahmad Tohari bisa membawa masuk pembacanya dalam dunia buatannya melalui deskripsi alam Dukuh Paruk serta sekitarnya. Kita seakan ikut merasakan suasana alam tersebut.
Graphic: Death, Sexism, Cultural appropriation
Minor: Mental illness
adventurous
challenging
dark
emotional
hopeful
informative
inspiring
lighthearted
sad
medium-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
buku yg pantes banget dapat rate 5/5 alias sempurna! pembaca diajak ikut tumbuh dalam perjalanan hidup tokoh utama, yaitu Srintil. jadi suka duka yg dirasain oleh Srintil juga bisa dirasakan oleh pembaca.
ending yg nyakitin banget, luar biasa nyakitinnya dari yg pernah aku tebak.
ending yg nyakitin banget, luar biasa nyakitinnya dari yg pernah aku tebak.
Namun, keguncangan kali ini jauh lebih mengerikan daripada keguncangan ketika aku menyaksikan seseorang yang sedang meregang nyawa dengan tubuh bersimbah darah.
buku ini juga mengajarkan bagimana kebodohan bisa mencelakai kita. semuanya ga bakal terjadi kalau mereka engga bodoh.
Oh, Dukuh Paruk, karena kedunguanmu maka kini Srintil hanya tinggal sosok nyawa. Karena kedunguanmu maka kau pasti tidak merasa bahwa sesungguhnya engkaulah yang harus bertanggung jawab atas kehancuran yang luar biasa ini.
Puncak malapetaka sudah tiba dan aku geram bukan main karena Srintillah yang harus memikulnya.
Aku adalah hati ibu yang remuk karena mendengar seorang anaknya melolong dan meratap dalam kematian yang jauh lebih dahsyat daripada maut.
adventurous
challenging
emotional
fast-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
an amazing book! love it, the diction used, the plot, and the topic are so much good. brings some political, social, and Indonesia’s history. love love
challenging
dark
emotional
reflective
sad
slow-paced
Plot or Character Driven:
Plot
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
N/A
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
Moderate: Physical abuse, Sexual content
Minor: Gun violence
emotional
inspiring
sad
slow-paced
Plot or Character Driven:
Character
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
No