4.36 AVERAGE

emotional sad fast-paced
Plot or Character Driven: Plot
Strong character development: Yes
Loveable characters: Complicated
Diverse cast of characters: N/A
Flaws of characters a main focus: Yes
adventurous dark emotional lighthearted sad medium-paced
Plot or Character Driven: A mix
Strong character development: Yes
Loveable characters: Complicated
Diverse cast of characters: Yes
Flaws of characters a main focus: Yes

Beautifully-written and wonderfully descriptive. Tohari has an amazing way of painting rural Javanese life.
dark emotional sad slow-paced
Plot or Character Driven: A mix
Strong character development: Complicated
Loveable characters: Complicated
Diverse cast of characters: Yes
Flaws of characters a main focus: Yes
dark emotional mysterious sad slow-paced
Plot or Character Driven: Character
Strong character development: Yes
Loveable characters: Complicated
Flaws of characters a main focus: Complicated

4,5

Aku sangat menikmati pembacaanku terhadap Ronggeng Dukuh Paruk ini. Awalnya penasaran, kok bisa ya buku ini menjadi novel klasik Indonesia yang sangat dikenal? Akhirnya terjawab dengan terang benderang setelah membacanya. Pak Ahmad Tohari dengan apiknya menyajikan serta memotret cerita kehidupan manusia-manusia Dukuh Paruk dengan segala lebih dan kurangnya.

Dengan beragam isu yang ditangkap, serta penuturan dan cara bercerita yang sederhana namun indah, Ronggeng Dukuh Paruk layak jadi novel yang harus dibaca minimal satu kali seumur hidup.

Klenik masyarakat dalam desa yang amat nun jauh dari kota amat terasa bahkan perkembangan desa juga Srintil dan Rasus. Seakan hidup bersama mereka, terlebih Srintil yang menjadi tokoh utama. Penggambaran bagaimana kaum lelaki bila ditolak wanita akan merasa paling dipermalukan pun justru jelas sampai saya ikut kesal.

Kisah Srintil yang sudah berstatus yatim-piatu sejak umurnya masih belia sudah dibasuh air mata, terlebih harus merelakan perasaannya karena dia lah seorang ronggeng, seiring waktu kehodupannya semakin menyedihkan.

Untuk narasi, ini dia narasi banyak variasi yang saya suka juga. Jelas namun tak bosan, kemudian mengundang untuk dibaca terus menerus (ya saya baca satu kali duduk 300 lebih halaman).

Sepenutup halaman terakhir buku ini, saya merasakan bahwa memang buku ini sangat kaya. Dan memang patut menjadi sebuah maha karya dalam kekayaan sastra Indonesia. Buku yang meliuk-liuk dengan kata-katanya, tetapi dalam. Deskriptif dengan penggambaran alam tetapi diiringi dengan kisah yang menunggu untuk dituntaskan. Sebuah epik sastra yang luar biasa. Tak heran buku ini layak mendapat acungan jempol. Dan menjadikan Ahmad Tohari, sebagai salah satu sastrawan terbaik di Indonesia.

Butuh sekian purnama untuk menyelesaikan buku ini, sebab peliknya kegiatan di tahun ini mulai dari KKN dan PKL beserta laporannya membuat hasrat membaca buku menjadi urung. Namun pada akhirnya tuntas juga.

Saya bisa dikatakan suka dengan karya-karya Ahmad Tohari, karena memang sudah membaca buku-buku beliau sebelumnya yang memang kental akan suasana pedesaan dan orang-orangnya. Tapi entah mengapa di buku ini saya agak kesulitan untuk menyelesaikannya, di luar beberapa faktor yang sudah saya singgung sebelumnya. Alur cerita di buku ini sangatlah lambat, pelan dan begitu banyak narasi akan penggambaran alam sekitar. Memang selama membaca buku-bukunya, beliau memiliki ciri khas tentang bagaimana penggambaran suasana alam yang detil dan indah. Namun di buku ini menurut saya terlalu berlebihan. Sehingga membuat saya bosan dan sempat berfikiran untuk tidak menyelesaikannya. Ditambah lagi dengan bentuk buku yang lebar dan tebal rasanya menyulitkan untuk membaca dan membawanya ke mana-mana.

Itu tadi hanyalah sebuah keluhan pribadi, tidak bermaksud untuk menejelek-jelekkan karya beliau. Cerita yang dihadirkan pun sebenarnya keren dan begitu kompleks karena menyentil kehidupan sosial dan kebudayaan pada zaman itu. Barangkali, saya akan lebih menikmati novel ini apabila dipecah kembali menjadi 3 buku dengan ukuran yang kecil dan tidak terlalu tebal. Ya, mungkin saja.