Take a photo of a barcode or cover
Bulan November lalu baru menamatkan sepertiga bagiannya saja. Awal bulan ini, saya memutuskan untuk membeli bukunya dan menamatkannya satu malam saja.
Cukup membuat saya kehilangan kata-kata untuk membuat review nya. Dibandingkan dengan filmnya yang terpaksa saya tonton duluan, keseluruhan cerita buku ini jauh lebih menarik.
Cukup membuat saya kehilangan kata-kata untuk membuat review nya. Dibandingkan dengan filmnya yang terpaksa saya tonton duluan, keseluruhan cerita buku ini jauh lebih menarik.
Buku yang bagus banget, tentang Srintil & karakternya yang nyeritain gimana jati diri perempuan yang bukan cuma objek pemuas nafsu. Shout out buat Ahmad Tohari yang berhasil bikin buku ini gak ngebosenin buat dibaca walaupun bukunya cukup tebel
punya bukunya dan gak tau kenapa akhirnya kebaca versi ebooknya.
saya rasa, saya tau kenapa buku ini diawal sempat di 'simpan' untuk tidak boleh beredar, tapi saya merasa jauh bisa mengenal Dukuh Paruk jaman dulu lewat buku ini.
Menarik memang sambil membayangkan Pia Nasution sebagai Srintil dan Oka Antara sebagai Rasus.
saya rasa, saya tau kenapa buku ini diawal sempat di 'simpan' untuk tidak boleh beredar, tapi saya merasa jauh bisa mengenal Dukuh Paruk jaman dulu lewat buku ini.
Menarik memang sambil membayangkan Pia Nasution sebagai Srintil dan Oka Antara sebagai Rasus.
Selesai baca Ronggeng Dukuh Paruk sekali duduk. Adatnya sangat merugikan perempuan, kebodohan dan kemalasan warganya, mewajarkan jual beli keperawanan, ugh
Konsep cerita yg diangkat cukup bagus, tapi detail narasinya makin akhir makin jadi bertele-tele. Banyak narasi 150 halaman terakhir yang terkesan tidak perlu ditulis. Mungkin niat Pak Tohari agar terlihat indah nan cantik, tapi dimata saya malah bikin jenuh. Pasalnya berujung banyak paragraf yang saya lewati begitu saja, karena merasa tidak ada keterkaitan dengan konflik cerita.
Saya tidak sungguh-sungguh paham setelah membaca buku ini. Barangkali harapan saya terlalu tinggi dengan buku ini, dan tidak begitu memperolehnya. Terlalu banyak pemeran utamanya (Srintil-Rasus) menghilang di beberapa bagian. Lebih banyak salah satu dari keduanya yang menguasai cerita, memang Srintil worth it. Dan bagi orang awam semacam saya yang tak tahu banyak tentang Jawa, terlalu banyak ke-"Jawa-jawa"-an dalam buku ini memusingkan. Andai ada catatan kaki mungkin lebih mudah memahaminya.
Setelah 3 novel terjemahan, membaca karya asli Ahmad Tohari rasanya menyegarkan. Saya bisa mengecap manisnya sastra Indonesia di buku ini. Berbeda dengan terjemahan yang kadang kurang bisa menunjukkan cita rasa sastra bahasa aslinya.
Tohari tak perlu diragukan lagi untuk menulis dengan kalimat bersayap yang sangat indah. 14 karya telah diterbitkannya. Beberapa diantaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Diksinya cantik sekali. Saya banyak menemui kata yang jarang ditemui pada percakapan sehari-hari. Tapi karena narasi penulis yang baik, takjubnya saya bisa mengerti.
Buku ini adalah karya kedua Tohari yang saya baca, sebelumnya Di Kaki Bukit Cibalak. Nuansa pedesaan terasa jelas digambarkan pada kedua buku tersebut. Latar, budaya, hewan dan tumbuhannya dijelaskan dengan sangat detail dan runut.
Selain latar, Tohari juga mengupas habis pergolakan batin yang dialami tokoh. Pergolakan itu dikupasnya hingga habis. Hasilnya adalah konflik paling dasar yang patut dialami tokoh namun kadang susah ditangkap oleh pemahaman manusia.
Karya yang sarat dengan suasana politik tahun 1965 ini memiliki alur lambat. Kadang saya bosan hehehe.
Bagi kalian yang menyukai sastra sejarah Indonesia, buku ini wajib dibaca.
Tohari tak perlu diragukan lagi untuk menulis dengan kalimat bersayap yang sangat indah. 14 karya telah diterbitkannya. Beberapa diantaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Diksinya cantik sekali. Saya banyak menemui kata yang jarang ditemui pada percakapan sehari-hari. Tapi karena narasi penulis yang baik, takjubnya saya bisa mengerti.
Buku ini adalah karya kedua Tohari yang saya baca, sebelumnya Di Kaki Bukit Cibalak. Nuansa pedesaan terasa jelas digambarkan pada kedua buku tersebut. Latar, budaya, hewan dan tumbuhannya dijelaskan dengan sangat detail dan runut.
Selain latar, Tohari juga mengupas habis pergolakan batin yang dialami tokoh. Pergolakan itu dikupasnya hingga habis. Hasilnya adalah konflik paling dasar yang patut dialami tokoh namun kadang susah ditangkap oleh pemahaman manusia.
Karya yang sarat dengan suasana politik tahun 1965 ini memiliki alur lambat. Kadang saya bosan hehehe.
Bagi kalian yang menyukai sastra sejarah Indonesia, buku ini wajib dibaca.
hopeful
mysterious
reflective
tense
medium-paced
Buku ini mengajarkan untuk tidak berharap pada manusia.
challenging
emotional
inspiring
reflective
sad
fast-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
No
Flaws of characters a main focus:
No
Moderate: Emotional abuse, Rape, Sexual content, Police brutality