Take a photo of a barcode or cover
autumnfallreader's Reviews (1.05k)
lighthearted
medium-paced
Plot or Character Driven:
Plot
Strong character development:
Yes
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
King of Greed jadi buku ketiga dari seri King of Sins. Setelah di dua buku sebelumnya Dom muncul dikit-dikit, sekarang dia ada ceritanya sendiri. Bisa dibilang, Dom ini OKB, ya. Jadi dia emang beneran bekerja keras banget supaya dia bisa ‘panjat sosial’. Dari dua buku sebelumnya juga dia emang udah ada sih aura-aura jadi Male lead, wkwkwk.
Pros:
Aku suka sama Dom dan Ale yang ‘ngebenerin’ diri mereka dulu. Ale yang akhirnya punya jati diri lagi dan bukan cuman sekedar ‘istri Dominic Davenport’ atau Dom yang juga mau nyari tahu apa kesalahan dia.
Ada backstory mereka zaman kuliah. Sejujurnya, cerita ini lebih menarik, sih ketimbang cerita utamanya. Aku lebih pengen tahu gimana akhirnya mereka bisa barengan.
Aku juga suka hubungan Dominic sama Roman, dan hubungan Ale sama temen-temennya. Definisi saudara beda ortu. Tiap ada momen-momen mereka itu kerasa heartwarming aja, sih.
Cons:
Jujur, aku rada bingung juga, ya. karena aku ya suka-suka aja sama bukunya. Masih ngasih rating yang gede buat seri ini, tapi kayaknya bukan buku yang berkesan juga. Waktu Ana Huang ngumumin kalau buku ini bakalan punya trope Marriage in Trouble, aku ya excited karena aku suka trope itu. Tapi ternyata bukunya bukan definisi MiT yang kutahu. Karena ya in trouble-nya cuman 1/4 doang. Kaget sih waktu mereka udah cerai aja. Maksudku, MiT yang kutahu ya nggak bercerai, tapi mereka mengusahakan biar hubungan mereka kembali jadi harmonis.
Terus, menurutku ceritanya rada nggak jelas, sih, wkwkwk. Maksudnya, kalau mau dibikin dark ya bikin dark aja sekalian. Soalnya jadi aneh. Masa ada pembunuhan terus udah aja gitu. Walaupun emang akhirnya ke-solve di akhir, tapi ya jadinya nanggung dan gaje. Terlebih lagi, kalau nggak ada masalah itu pun cerita bakalan tetep jalan. Yup, sub conflict-nya nggak ada berdampak apapun. Enah buat hubungan Ale-Dom atau bahkan untuk karakter Dom.
Pros:
Aku suka sama Dom dan Ale yang ‘ngebenerin’ diri mereka dulu. Ale yang akhirnya punya jati diri lagi dan bukan cuman sekedar ‘istri Dominic Davenport’ atau Dom yang juga mau nyari tahu apa kesalahan dia.
Ada backstory mereka zaman kuliah. Sejujurnya, cerita ini lebih menarik, sih ketimbang cerita utamanya. Aku lebih pengen tahu gimana akhirnya mereka bisa barengan.
Aku juga suka hubungan Dominic sama Roman, dan hubungan Ale sama temen-temennya. Definisi saudara beda ortu. Tiap ada momen-momen mereka itu kerasa heartwarming aja, sih.
Cons:
Jujur, aku rada bingung juga, ya. karena aku ya suka-suka aja sama bukunya. Masih ngasih rating yang gede buat seri ini, tapi kayaknya bukan buku yang berkesan juga. Waktu Ana Huang ngumumin kalau buku ini bakalan punya trope Marriage in Trouble, aku ya excited karena aku suka trope itu. Tapi ternyata bukunya bukan definisi MiT yang kutahu. Karena ya in trouble-nya cuman 1/4 doang. Kaget sih waktu mereka udah cerai aja. Maksudku, MiT yang kutahu ya nggak bercerai, tapi mereka mengusahakan biar hubungan mereka kembali jadi harmonis.
Terus, menurutku ceritanya rada nggak jelas, sih, wkwkwk. Maksudnya, kalau mau dibikin dark ya bikin dark aja sekalian. Soalnya jadi aneh. Masa ada pembunuhan terus udah aja gitu. Walaupun emang akhirnya ke-solve di akhir, tapi ya jadinya nanggung dan gaje. Terlebih lagi, kalau nggak ada masalah itu pun cerita bakalan tetep jalan. Yup, sub conflict-nya nggak ada berdampak apapun. Enah buat hubungan Ale-Dom atau bahkan untuk karakter Dom.
funny
lighthearted
medium-paced
Plot or Character Driven:
Character
Strong character development:
No
Loveable characters:
Yes
Diverse cast of characters:
Yes
Flaws of characters a main focus:
Yes
Judul: Better Hate than Never
Penulis: Chloe Liese
Penerbit: Berkley Romance
Jumlah Halaman: 399 Halaman
Pros:
1. Ini buku kedua dari Cloe Liese yang kubaca. Jujur aku lebih suka buku ini juga karena ini trope favorit aku, wkwkw. Buku kedua Wilmot series ini lebih banyak momen manisnya, terus yang paling aku suka adalah, buku ini nggak ada putus-putusan atau pisah-pisahan diulu.Mereka beneran dewasa, caring satu sama lain.
2. Bukunya juga page turning banget. Kek, perasaan baru baca udah selesai aja. Emang buku seru tuh gitu, ya.
3. Eskalasinya aku suka bangeeeet. So smooth. Kayak, gimana ya sebenernya keliatan aja, sih, dari awal kalau Chris itu ya sepeduli itu tapi dia nggak bisa aja nunjukkin ke Kate. Terus Kate juga dari awal diliatin gitu kalau dia emang caper sama Chris. Bagus aja, sih, penulisnya nunjukkin hal minor-minornya.
4. Paruh buku awal cerita ini, tiap POV Kate, aku sedih banget. Sediki banyak relate aja sama dia.
Conos:
1. Untuk yang nggak sering-sering banget baca buku English dan baru aktif setahun terakhir, jujur English-nya di awal susaaaaah banget diikutin. Dari buku pertama juga gitu, sih. Kayak butuh waktu untuk menyesuaikan aja sebelum bener-bener bisa masuk sama ceritanya. Alhamdulillah-nya buku ini lebih gampang masuknya ketimbang buku selanjutnya.
2. Duh, aku tahu sih, penulisnya emang vocal banget sama gender issue dan segala hal tentag itu. Sama orientasinya juga sering kebahas dari buku sebelumnya. Tapi ya alhamdulillahnya lagi nggak yang berpengaruh sama ceritanya juga, dan kupikir nggak penting juga, sih. Seakan-akan penulisnya nyinggung itu cuman buat representatif kalau doi dukung soal itu? Padahal bakalan lebih asyik aja kalau kepedulian Kate soal penangkaran hewan-hewan yang lebih banyak dibahas.
Penulis: Chloe Liese
Penerbit: Berkley Romance
Jumlah Halaman: 399 Halaman
Pros:
1. Ini buku kedua dari Cloe Liese yang kubaca. Jujur aku lebih suka buku ini juga karena ini trope favorit aku, wkwkw. Buku kedua Wilmot series ini lebih banyak momen manisnya, terus yang paling aku suka adalah, buku ini nggak ada putus-putusan atau pisah-pisahan diulu.Mereka beneran dewasa, caring satu sama lain.
2. Bukunya juga page turning banget. Kek, perasaan baru baca udah selesai aja. Emang buku seru tuh gitu, ya.
3. Eskalasinya aku suka bangeeeet. So smooth. Kayak, gimana ya sebenernya keliatan aja, sih, dari awal kalau Chris itu ya sepeduli itu tapi dia nggak bisa aja nunjukkin ke Kate. Terus Kate juga dari awal diliatin gitu kalau dia emang caper sama Chris. Bagus aja, sih, penulisnya nunjukkin hal minor-minornya.
4. Paruh buku awal cerita ini, tiap POV Kate, aku sedih banget. Sediki banyak relate aja sama dia.
Conos:
1. Untuk yang nggak sering-sering banget baca buku English dan baru aktif setahun terakhir, jujur English-nya di awal susaaaaah banget diikutin. Dari buku pertama juga gitu, sih. Kayak butuh waktu untuk menyesuaikan aja sebelum bener-bener bisa masuk sama ceritanya. Alhamdulillah-nya buku ini lebih gampang masuknya ketimbang buku selanjutnya.
2. Duh, aku tahu sih, penulisnya emang vocal banget sama gender issue dan segala hal tentag itu. Sama orientasinya juga sering kebahas dari buku sebelumnya. Tapi ya alhamdulillahnya lagi nggak yang berpengaruh sama ceritanya juga, dan kupikir nggak penting juga, sih. Seakan-akan penulisnya nyinggung itu cuman buat representatif kalau doi dukung soal itu? Padahal bakalan lebih asyik aja kalau kepedulian Kate soal penangkaran hewan-hewan yang lebih banyak dibahas.
What did I just read?
Eniwe, I got this book from romance read club.
But really, I don't get the point of this book.
Dari awal sampe akhir buku ini jumpy bgt. Transisinya gk jelas, karakternya juga nggak jelas. Mau misterius tapi lbih kek lingling ini tuh mau dibawa ke mana. Teus boom!! Di akhir ada twist, aku bhkan nggak ngerti itu tuh mreka lagi ngomongin apa. 😂
Ya thu ini sengaja krena mau ad bku 2. Tpi y tolinglah, di buku 1 juga jangan kek kumpulan clue doang, plotnya juga adain. Inimah apaan. Nggak tahulah, buku tergakjelas yg kubaca tahun ini, sejauh ini.
Eniwe, I got this book from romance read club.
But really, I don't get the point of this book.
Dari awal sampe akhir buku ini jumpy bgt. Transisinya gk jelas, karakternya juga nggak jelas. Mau misterius tapi lbih kek lingling ini tuh mau dibawa ke mana. Teus boom!! Di akhir ada twist, aku bhkan nggak ngerti itu tuh mreka lagi ngomongin apa. 😂
Ya thu ini sengaja krena mau ad bku 2. Tpi y tolinglah, di buku 1 juga jangan kek kumpulan clue doang, plotnya juga adain. Inimah apaan. Nggak tahulah, buku tergakjelas yg kubaca tahun ini, sejauh ini.
adventurous
challenging
dark
medium-paced
Plot or Character Driven:
A mix
Strong character development:
Complicated
Loveable characters:
Complicated
Diverse cast of characters:
No
Flaws of characters a main focus:
Yes
Yaampun, yaampun, aku nggak nyangka ternyata bisa juga baca English Fantasy, wkwk. Rating kutaruh di bawah karena aku bingung mau kasih rating berapa. Di sisi lain aku suka, tapi aku gedeg juga sama tokoh-tokohnya, duh!
PROS:
Untk pembaca awam Mitologi Afrika, menurutku deskripsinya super duper ringan dan mudah dimengerti. World building-nya, terus magic systemnya juga. Setelah libur baca fantasi dan baru mulai lagi beberapa bulan terakhir ini, buku ini termasuk seri yang world buildingnya bgs.
Hal lain yang oke banget menurutku villain sih. Kalau dari sisi Saran sama Inan, ngerti banget kenapa mereka pengen banget musnahin Maji. Apalagi buat Saran, ya. Saran salah pendekatannya, tapi motivasi dia jelas banget.
Dan ya sebenernya, ini cycle, sih. Ujung2nya Saran dan Maji sama aja.
Pengembangan karakter Amari, sih, yang paling kerasa. Dia juga paling menonjol. Walaupun, tiga tokoh utama ini basic-nya udah kuat. Mulai dari misbelief, desire, dan fear.
CONS:
Kalau tadi aku bilang basic karakternya udah kuat itu masuk yang aku suka dan apresiasi, nah hal yang disayangkannya adalah karakter Amari aja yang ada pengembangan karakter. Zellie dan Inan ini gitu-gitu aja. Bikin frustrasi malah.
Aku juga bukan termasuk pembaca yang suka sama tokoh yang terus ngelakuin kesalahan tapi dia nggak mau belajar dari kesalannya. Nah, masalahnya Zellie ini dia bebal dari awal. Nggak mau belajar. Egois dan maunya sendiri aja. Padahal dia itu udah ering banget ngerugiin orang lain. Self centered banget pokoknya.
Kukira awalnya, kesalahan yang dia bikin itu bakalan ada efek jeranya, tahunya dia sampe akhir malah kayak gitu. Dan karena dia banyak lakuin kesalahan, ditambah lagi klimaks yang pke deus ex machina. Makinlah aku kesel.
Ini yang paling kasian ya Tzain, karena dia yang selalu nanggung kesalahan-kesalahan Zellie.
Oh, sama aku nggak suka romance Zellie-Inan, sih. Insta love. Kek Inan udah sejahat itu masa iya gampang bgt maafin. Tapi ya emang Zellie mah bebal aja sih orangnya.
Inan-Amari ini bagus sih sebenernya. Karena ke ngegambarin negative arc sama positive arc.
PROS:
Untk pembaca awam Mitologi Afrika, menurutku deskripsinya super duper ringan dan mudah dimengerti. World building-nya, terus magic systemnya juga. Setelah libur baca fantasi dan baru mulai lagi beberapa bulan terakhir ini, buku ini termasuk seri yang world buildingnya bgs.
Hal lain yang oke banget menurutku villain sih. Kalau dari sisi Saran sama Inan, ngerti banget kenapa mereka pengen banget musnahin Maji. Apalagi buat Saran, ya. Saran salah pendekatannya, tapi motivasi dia jelas banget.
Dan ya sebenernya, ini cycle, sih. Ujung2nya Saran dan Maji sama aja.
Pengembangan karakter Amari, sih, yang paling kerasa. Dia juga paling menonjol. Walaupun, tiga tokoh utama ini basic-nya udah kuat. Mulai dari misbelief, desire, dan fear.
CONS:
Kalau tadi aku bilang basic karakternya udah kuat itu masuk yang aku suka dan apresiasi, nah hal yang disayangkannya adalah karakter Amari aja yang ada pengembangan karakter. Zellie dan Inan ini gitu-gitu aja. Bikin frustrasi malah.
Aku juga bukan termasuk pembaca yang suka sama tokoh yang terus ngelakuin kesalahan tapi dia nggak mau belajar dari kesalannya. Nah, masalahnya Zellie ini dia bebal dari awal. Nggak mau belajar. Egois dan maunya sendiri aja. Padahal dia itu udah ering banget ngerugiin orang lain. Self centered banget pokoknya.
Kukira awalnya, kesalahan yang dia bikin itu bakalan ada efek jeranya, tahunya dia sampe akhir malah kayak gitu. Dan karena dia banyak lakuin kesalahan, ditambah lagi klimaks yang pke deus ex machina. Makinlah aku kesel.
Ini yang paling kasian ya Tzain, karena dia yang selalu nanggung kesalahan-kesalahan Zellie.
Oh, sama aku nggak suka romance Zellie-Inan, sih. Insta love. Kek Inan udah sejahat itu masa iya gampang bgt maafin. Tapi ya emang Zellie mah bebal aja sih orangnya.
Inan-Amari ini bagus sih sebenernya. Karena ke ngegambarin negative arc sama positive arc.
Story Of Us (Side B)
Sofi Meloni, Nureesh Vhalega, Ika Vihara, Catz Link Tristan, Titi Sanaria, Oda Sekar Ayu, Innayah Putri, Viera Fitani, Mayya Adnan, Mooseboo, Pradnya Paramitha
3,1 🌟 ini klo dri rata2 semua cerita.
Menurutku, dari side B ini susah bgt nyari yg seru. Selain dri penulis yg emang kuikutin, aku nggak nemu lgi penulis yg aku suka.
Eniwe, impression tiap chap ada di reading progress ya.
Penulis yg aku ikutin di buku ini tuh cuman Titi Sanaria,Pradnya Paramitha, sama Innayah Putri. Mooseboo aku udah ada beberapa bukunya. Penulis baru yang mungkin bisa kubaca palibg cuman 1, Sofi Meloni aja. Nureesh Vhalaga tuh keknya juga bisa. Aku udah baca dua, sih. Tpi emang tipe bku yg bkin frustrasi. 😂
Menurutku, dari side B ini susah bgt nyari yg seru. Selain dri penulis yg emang kuikutin, aku nggak nemu lgi penulis yg aku suka.
Eniwe, impression tiap chap ada di reading progress ya.
Penulis yg aku ikutin di buku ini tuh cuman Titi Sanaria,Pradnya Paramitha, sama Innayah Putri. Mooseboo aku udah ada beberapa bukunya. Penulis baru yang mungkin bisa kubaca palibg cuman 1, Sofi Meloni aja. Nureesh Vhalaga tuh keknya juga bisa. Aku udah baca dua, sih. Tpi emang tipe bku yg bkin frustrasi. 😂
Baca di GD
Akhirnya dengan berhasilnya beresin buku ini, selesai sudah dua buku story of us ini, wkkwkw. Tidak menyangka bisa selesai juga.
Buku ini sendiri jelas bukan buatku sih, soalnya aku nggak suka ama dramanya, ama tokoh ceweknya yanh sok iya banget, dan dua cowok yang enggak menghargai cewek sedikit pun. Asli, aku ngerasa di buku ini cewek kagak ada harga dirinya yaampun, wkwk.
Mksdnya tuh, kek apa banget deh itu. Ini ceweknya aja sih nggak peka, padahal Fabian jelas bilang, dia pergi karena nggak mau Dirga pergi. Tuh, dia tuh nggak peduli2 amat sama Asty. 😂
Mana sok tahu banget Asty cinta siapa. Dilempar2 kayak barang. Aduh aduuh.
Tapi Asty-nya mau aja. 😂
Terus emang dri awal insta love, sih. Jrang suka sama insta love.
================
Dnf di halaman 127
Udahlah, aku enggak kuat juga bacanya. Udah cape sama cewek labil begini. Terus aku juga males lah sama cowok yang pergi, ngagantungin ceweknya, terus dateng2 masih berani bilang klau dia pacarnya. Kan aku kesel. Emang cewek tuh ada cuman but nunggu apa? Terus ini lagi cweknya labil. Ke si itu mau, ke si ono juga mau. Rieutlah. Udahan, mo baca yang lain aja.
Akhirnya dengan berhasilnya beresin buku ini, selesai sudah dua buku story of us ini, wkkwkw. Tidak menyangka bisa selesai juga.
Buku ini sendiri jelas bukan buatku sih, soalnya aku nggak suka ama dramanya, ama tokoh ceweknya yanh sok iya banget, dan dua cowok yang enggak menghargai cewek sedikit pun. Asli, aku ngerasa di buku ini cewek kagak ada harga dirinya yaampun, wkwk.
Mksdnya tuh, kek apa banget deh itu. Ini ceweknya aja sih nggak peka, padahal Fabian jelas bilang, dia pergi karena nggak mau Dirga pergi. Tuh, dia tuh nggak peduli2 amat sama Asty. 😂
Mana sok tahu banget Asty cinta siapa. Dilempar2 kayak barang. Aduh aduuh.
Tapi Asty-nya mau aja. 😂
Terus emang dri awal insta love, sih. Jrang suka sama insta love.
================
Dnf di halaman 127
Udahlah, aku enggak kuat juga bacanya. Udah cape sama cewek labil begini. Terus aku juga males lah sama cowok yang pergi, ngagantungin ceweknya, terus dateng2 masih berani bilang klau dia pacarnya. Kan aku kesel. Emang cewek tuh ada cuman but nunggu apa? Terus ini lagi cweknya labil. Ke si itu mau, ke si ono juga mau. Rieutlah. Udahan, mo baca yang lain aja.