Scan barcode
tiareadsbooks25's reviews
851 reviews
Sex and Vanity by Kevin Kwan
3.0
•recently read•
3.5/5⭐
•••
At her friend's wedding in Capri, Lucie Tang Churchill met and was instantly attracted by George Zao—a charming and kind Chinese homeboy. They're drawn to each other until a certain incident parts them away. 5 years later, they cross paths again in New York. Lucie can't deny that her feelings for George remain the same, though she is engaged to Cecil Pike. Will Lucie follows her heart and choose George?
Sex and Vanity is a retelling story of E. M. Forster's A Room With a View. I haven't read the book, so I can hardly compare the two. Unfortunately, some people have written negative reviews about this book. That's why I set my expectations pretty low when I read it. The only reason I keep reading this book is because I love the Crazy Rich Asians trilogy.
I look forward to having a more romantic interaction between Lucie and George. Turns out, this book focuses on Lucie's struggles with her half-Chinese and half-American identity, how people mistreat her, and how it causes her to sublimate her Asian sides only to be accepted by her society. I suppose that's a good topic to raise, but sadly, it's covered up with characters' descriptions of the extravagant lifestyle.
I don't even feel the climax of the story. The storyline was executed rashly and as flat as the characters. It's a predictable story where there are no twists at all. Oh, I can't even love Lucie as much as I love Rachel Chu and Astrid Leong. Especially after all of Lucie's stupid attempts to push George away. That's not cool, Lucie. Not cool.
Overall, I've mixed feelings about this book. I hope to get something new from Kevin Kwan, definitely not this one. In my opinion, if you're looking for a light and fast-to-read story, this book might be for you. However, if you expected this book to be as good as the Crazy Rich Asians trilogy, you might end up disappointed by it.
•••
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
3.5/5⭐
•••
At her friend's wedding in Capri, Lucie Tang Churchill met and was instantly attracted by George Zao—a charming and kind Chinese homeboy. They're drawn to each other until a certain incident parts them away. 5 years later, they cross paths again in New York. Lucie can't deny that her feelings for George remain the same, though she is engaged to Cecil Pike. Will Lucie follows her heart and choose George?
Sex and Vanity is a retelling story of E. M. Forster's A Room With a View. I haven't read the book, so I can hardly compare the two. Unfortunately, some people have written negative reviews about this book. That's why I set my expectations pretty low when I read it. The only reason I keep reading this book is because I love the Crazy Rich Asians trilogy.
I look forward to having a more romantic interaction between Lucie and George. Turns out, this book focuses on Lucie's struggles with her half-Chinese and half-American identity, how people mistreat her, and how it causes her to sublimate her Asian sides only to be accepted by her society. I suppose that's a good topic to raise, but sadly, it's covered up with characters' descriptions of the extravagant lifestyle.
I don't even feel the climax of the story. The storyline was executed rashly and as flat as the characters. It's a predictable story where there are no twists at all. Oh, I can't even love Lucie as much as I love Rachel Chu and Astrid Leong. Especially after all of Lucie's stupid attempts to push George away. That's not cool, Lucie. Not cool.
Overall, I've mixed feelings about this book. I hope to get something new from Kevin Kwan, definitely not this one. In my opinion, if you're looking for a light and fast-to-read story, this book might be for you. However, if you expected this book to be as good as the Crazy Rich Asians trilogy, you might end up disappointed by it.
•••
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
Hafalan Shalat Delisa (Edisi Revisi) by Tere Liye
4.0
•recently read•
3.8/5⭐
❝Marah dan menangis itu satu jenis. Kalian akan menangis jika saking marahnya. Menangis itu juga satu jenis dengan senang. Kalian akan menangis jika saking senangnya. Dan tentu saja menangis itu benar-benar satu jenis dengan sedih. Kalian akan menangis kalau sedih.❞
—Page 31
❝Ummi.... U-m-m-i, Delisa cinta Ummi karena Allah!❞
—Page 250
•••
Buku ini menceritakan kisah seorang gadis kecil bernama Delisa yang semangat menghafal bacaan sholat-nya demi mendapat hadiah kalung dari Ummi dan sepeda dari Abi. Sayangnya, ketika ia sedang menyetor hafalan sholat kepada Ibu Guru Nur, musibah tsunami menghantam sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya, Lhok Nga. Akan kah Delisa berhasil menyelesaikan hafalan shalat-nya dengan baik?
Semua kisah yang mengambil latar belakang bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004 selalu berhasil membuatku bergidik dan terenyuh. Tak terkecuali kisah Delisa dalam buku Hafalan Shalat Delisa. Sepanjang membaca buku ini, aku tak bisa menahan diri untuk meneteskan air mata dan menangis. Sungguh, ini merupakan buku yang begitu menyentuh dan menggetarkan hati.
3.8/5⭐
❝Marah dan menangis itu satu jenis. Kalian akan menangis jika saking marahnya. Menangis itu juga satu jenis dengan senang. Kalian akan menangis jika saking senangnya. Dan tentu saja menangis itu benar-benar satu jenis dengan sedih. Kalian akan menangis kalau sedih.❞
—Page 31
❝Ummi.... U-m-m-i, Delisa cinta Ummi karena Allah!❞
—Page 250
•••
Buku ini menceritakan kisah seorang gadis kecil bernama Delisa yang semangat menghafal bacaan sholat-nya demi mendapat hadiah kalung dari Ummi dan sepeda dari Abi. Sayangnya, ketika ia sedang menyetor hafalan sholat kepada Ibu Guru Nur, musibah tsunami menghantam sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya, Lhok Nga. Akan kah Delisa berhasil menyelesaikan hafalan shalat-nya dengan baik?
Semua kisah yang mengambil latar belakang bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004 selalu berhasil membuatku bergidik dan terenyuh. Tak terkecuali kisah Delisa dalam buku Hafalan Shalat Delisa. Sepanjang membaca buku ini, aku tak bisa menahan diri untuk meneteskan air mata dan menangis. Sungguh, ini merupakan buku yang begitu menyentuh dan menggetarkan hati.
3 (Tiga) by Alicia Lidwina
4.0
•recently read•
3.8/5⭐
❝Waktu adalah sesuatu yang sangat lucu. Ketika kau mencoba memperhatikannya, dia sudah mencuri begitu banyak darimu tanpa kausadari. Ingatan dan waktu mempermainkan rekaman adegan-adegan di benakku, dan yang berikutnya kuingat adalah masa ketika aku masih koukou.❞
—Page 54
❝Selama kau masih hidup, pasti akan ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu. Kau tidak bisa melarangnya, tapi kau bisa menolaknya. Tapi... hal yang Sebaliknya juga berlaku.... Ketika kau jatuh cinta... kau bisa melarangnya, tapi kau tidak bisa menolaknya.❞
—Page 89
❝Dia adalah orang yang tidak memiliki impian. Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.❞
—Page 99
❝Jangan menanggalkan hal-hal yang baik, Nakamura. Jangan sekalipun melakukannya. Kalau kau melakukannya, bukan saja kau kau akan kehilangan hal-hal tersebut, tapi lebih buruk lagi, mereka akan menjadi kenangan.❞
—Page 136
❝Seperti diriku yang kesepian, mereka juga merasakannya. Kami bertiga mungkin memang bukan orang biasa-biasa saja ketika di koukou, namun di luar sini, kami tiga manusia yang mencoba peruntungannya.❞
—Page 176
❝Dewasa. Sebuah kata yang menggelikan. Dulu, aku merasa orang dewasa tidak akan pernah merasa kesepian. Atau tidak berdaya. Atau begitu lemah dan tidak berharga.❞
—Page 176
❝Apakah memang kehidupan selalu dipenuhi dengan perpisahan? Apakah kita harus belajar ditinggalkan supaya bisa menjadi lebih kuat?❞
—Page 233
❝Sama seperti "kehidupan", "cinta", dan "persahabatan", "kebetulan" merupakan sebuah kata yang lucu. Beberapa orang menolak keberadaannya, dan memilih untuk percaya pada sebuah kuasa mutlak yang mereka namakan takdir. Tapi menurutku, kebetulan itu benar-benar ada.❞
—Page 251
❝Kau bilang cinta adalah mendambakan, dan Hashimoto berkata, cinta itu udah terpenjara. Okaasan bilang cinta itu adalah kecanduan, dan Suzuki Sensei bilang cinta itu adalah penyembuhan. Aku tidak tahu mana yang benar, Sakamoto. Aku tidak tahu. Tapi jika memang yang kurasakan ini adalah cinta—maka aku sudah mencapaimu.❞
—Page 261
❝Cinta adalah mengejar. Cinta adalah mencoba untuk meraih.❞
—Page 261
•••
Aku mengambil buku ini dari rak dengan satu pertanyaan, "Apa arti dari judul buku ini, 3 (Tiga)?" Ketika membaca sinopsisnya, aku cukup mendapatkan gambaran kisah apa yang akan aku temukan dalam novel debutan Alicia Lidwina ini. Meski begitu, arti 3 (Tiga) masih menjadi misteri.
3 (Tiga) berkisah tentang persahabatan antara Nakamura Chidori, Hashimoto Chihiro, dan Sakamoto Takahiro. Ketiganya memiliki karakter yang cukup berbeda. Sakamoo, pria seksi dan populer; Hashimoto, gadis yang pintar namun dianggap aneh dan gila; dan Nakamura, yang gadis yang menganggap dirinya sendiri biasa-biasa saja. Mereka ingin mewujudkan impian besar mereka dan berjanji untuk selalu bersama.
Seperti kisah persahabatan lainnya, buku ini pun dibalut dengan cinta segitiga. Alih-alih penuh drama klise, buku ini justru menampilkan kesan yang pedih, sendu, dan melankolis. Rasanya sesuai dengan setting tempat dan suasana Jepang yang begitu kental. Membaca buku ini serasa membaca buku terjemahan.
Ini merupakan buku pertama dari Kak Alicia yang aku baca. Aku cukup menikmati gaya penulisan Kak Alicia yang sederhana, namun mendalam. Alur ceritanya begitu rapi meski dipenuhi flashback. Kak Alicia pun mampu memikat pembaca dengan perkembangan karakter dan konflik yang dikupas secara perlahan namun pasti.
Aku yakin, kisah Nakamura, Hashimoto, dan Sakamoto terasa begitu familiar dan dekat dengan kehidupan banyak orang. Ketiganya dengan gigih berusaha mewujudkan impian, namun di sisi lain merasa kesulitan dan pesimis untuk menjalani kehidupan dewasa. Mereka yang dengan lihai meredam perasaan masing-masing demi persahabatan dan saling mendukung satu sama lain.
Satu kata yang menggambarkan buku ini, yaitu: BITTERSWEET. 3 (Tiga) memiliki cerita yang cukup kompleks dimana tidak hanya menyuguhkan kisah persahabatan, namun juga membahas tentang arti kehidupan, mengejar impian, proses pendewasaan, cinta terpendam, penyesalan masa lalu, juga rasa kehilangan yang mendalam.
•••
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
3.8/5⭐
❝Waktu adalah sesuatu yang sangat lucu. Ketika kau mencoba memperhatikannya, dia sudah mencuri begitu banyak darimu tanpa kausadari. Ingatan dan waktu mempermainkan rekaman adegan-adegan di benakku, dan yang berikutnya kuingat adalah masa ketika aku masih koukou.❞
—Page 54
❝Selama kau masih hidup, pasti akan ada seseorang yang jatuh cinta kepadamu. Kau tidak bisa melarangnya, tapi kau bisa menolaknya. Tapi... hal yang Sebaliknya juga berlaku.... Ketika kau jatuh cinta... kau bisa melarangnya, tapi kau tidak bisa menolaknya.❞
—Page 89
❝Dia adalah orang yang tidak memiliki impian. Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.❞
—Page 99
❝Jangan menanggalkan hal-hal yang baik, Nakamura. Jangan sekalipun melakukannya. Kalau kau melakukannya, bukan saja kau kau akan kehilangan hal-hal tersebut, tapi lebih buruk lagi, mereka akan menjadi kenangan.❞
—Page 136
❝Seperti diriku yang kesepian, mereka juga merasakannya. Kami bertiga mungkin memang bukan orang biasa-biasa saja ketika di koukou, namun di luar sini, kami tiga manusia yang mencoba peruntungannya.❞
—Page 176
❝Dewasa. Sebuah kata yang menggelikan. Dulu, aku merasa orang dewasa tidak akan pernah merasa kesepian. Atau tidak berdaya. Atau begitu lemah dan tidak berharga.❞
—Page 176
❝Apakah memang kehidupan selalu dipenuhi dengan perpisahan? Apakah kita harus belajar ditinggalkan supaya bisa menjadi lebih kuat?❞
—Page 233
❝Sama seperti "kehidupan", "cinta", dan "persahabatan", "kebetulan" merupakan sebuah kata yang lucu. Beberapa orang menolak keberadaannya, dan memilih untuk percaya pada sebuah kuasa mutlak yang mereka namakan takdir. Tapi menurutku, kebetulan itu benar-benar ada.❞
—Page 251
❝Kau bilang cinta adalah mendambakan, dan Hashimoto berkata, cinta itu udah terpenjara. Okaasan bilang cinta itu adalah kecanduan, dan Suzuki Sensei bilang cinta itu adalah penyembuhan. Aku tidak tahu mana yang benar, Sakamoto. Aku tidak tahu. Tapi jika memang yang kurasakan ini adalah cinta—maka aku sudah mencapaimu.❞
—Page 261
❝Cinta adalah mengejar. Cinta adalah mencoba untuk meraih.❞
—Page 261
•••
Aku mengambil buku ini dari rak dengan satu pertanyaan, "Apa arti dari judul buku ini, 3 (Tiga)?" Ketika membaca sinopsisnya, aku cukup mendapatkan gambaran kisah apa yang akan aku temukan dalam novel debutan Alicia Lidwina ini. Meski begitu, arti 3 (Tiga) masih menjadi misteri.
3 (Tiga) berkisah tentang persahabatan antara Nakamura Chidori, Hashimoto Chihiro, dan Sakamoto Takahiro. Ketiganya memiliki karakter yang cukup berbeda. Sakamoo, pria seksi dan populer; Hashimoto, gadis yang pintar namun dianggap aneh dan gila; dan Nakamura, yang gadis yang menganggap dirinya sendiri biasa-biasa saja. Mereka ingin mewujudkan impian besar mereka dan berjanji untuk selalu bersama.
Seperti kisah persahabatan lainnya, buku ini pun dibalut dengan cinta segitiga. Alih-alih penuh drama klise, buku ini justru menampilkan kesan yang pedih, sendu, dan melankolis. Rasanya sesuai dengan setting tempat dan suasana Jepang yang begitu kental. Membaca buku ini serasa membaca buku terjemahan.
Ini merupakan buku pertama dari Kak Alicia yang aku baca. Aku cukup menikmati gaya penulisan Kak Alicia yang sederhana, namun mendalam. Alur ceritanya begitu rapi meski dipenuhi flashback. Kak Alicia pun mampu memikat pembaca dengan perkembangan karakter dan konflik yang dikupas secara perlahan namun pasti.
Aku yakin, kisah Nakamura, Hashimoto, dan Sakamoto terasa begitu familiar dan dekat dengan kehidupan banyak orang. Ketiganya dengan gigih berusaha mewujudkan impian, namun di sisi lain merasa kesulitan dan pesimis untuk menjalani kehidupan dewasa. Mereka yang dengan lihai meredam perasaan masing-masing demi persahabatan dan saling mendukung satu sama lain.
Satu kata yang menggambarkan buku ini, yaitu: BITTERSWEET. 3 (Tiga) memiliki cerita yang cukup kompleks dimana tidak hanya menyuguhkan kisah persahabatan, namun juga membahas tentang arti kehidupan, mengejar impian, proses pendewasaan, cinta terpendam, penyesalan masa lalu, juga rasa kehilangan yang mendalam.
•••
#tiareadsbooks #tiawritesreviews
Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
4.0
•recently read•
4.3/5⭐
•••
⚠️CONTENT WARNINGS: DOMESTIC ABUSE, CHILD ABUSE, SUICIDE⚠️
I've known about Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie for a long time because people rave about her books. Yet here I am, recently finished reading Di Tanah Lada, my first encounter with her works. Jujur, aku masih bingung apakah aku suka atau enggak dengan tulisan Kak Ziggy dengan hanya baca buku ini.
Di Tanah Lada bercerita tentang Salva, gadis berusia 6 tahun yang pintar berbahasa Indonesia. Setelah Kakek Kia meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero. Di Rusun Nero lah Ava bertemu dengan anak laki-laki berusia 10 tahun bernama P. Dimulailah petualangan Ava dan P mencari dunia penuh kebahagiaan dan kehangatan—di Tanah Lada, tempat yang bisa mengabulkan harapan.
Buku ini mengambil sudut pandang Ava, jadi tak heran narasi yang dibawakan layaknya racauan anak kecil. Membaca buku ini seperti mendengarkan anak kecil bercerita. Kita akan dibawa untuk menyelami jalan pikiran mereka yang sederhana dan begitu polos, namun juga tidak fokus, khas celotehan anak-anak. Meskipun begitu, aku cukup dibuat takjub dengan pola pikir Ava yang terlihat lebih rumit dan dewasa dari usia-nya. Apalagi dengan kemampuan berbahasa Ava yang mencari arti kata dari kamus yang selalu ia bawa.
Jangan terkecoh dengan sampul bukunya yang terkesan colorful dan playful dengan tokoh utama yang masih anak-anak. Tau gak klo buku ini memiliki rating buku 16+? Well, gak heran sih karena buku ini memiliki vibe cerita yang gelap dan suram, cukup untuk membuat pembaca merasa frustasi, apalagi bagi mereka-mereka yang relate dengan ceritanya.
Buku ini mengangkat tema tentang toxic parents dimana Ava dan P merupakan korban dari kekejaman orang tua yang tidak bertanggung jawab. As children their age, they are entitled to happiness and unconditional affection from their parents. But in reality, they live a miserable life filled with fear and despair every day. Ava and P have to suffer without knowing why they're subjected to this tragedy.
I wish I could hug both of them and tell them that I understand their decision. Selayaknya nama yang diberikan Ava kepada P—Patibrata Praharsa—keduanya telah mendapatkan kebahagiaan sehidup semati.
4.3/5⭐
•••
⚠️CONTENT WARNINGS: DOMESTIC ABUSE, CHILD ABUSE, SUICIDE⚠️
I've known about Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie for a long time because people rave about her books. Yet here I am, recently finished reading Di Tanah Lada, my first encounter with her works. Jujur, aku masih bingung apakah aku suka atau enggak dengan tulisan Kak Ziggy dengan hanya baca buku ini.
Di Tanah Lada bercerita tentang Salva, gadis berusia 6 tahun yang pintar berbahasa Indonesia. Setelah Kakek Kia meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero. Di Rusun Nero lah Ava bertemu dengan anak laki-laki berusia 10 tahun bernama P. Dimulailah petualangan Ava dan P mencari dunia penuh kebahagiaan dan kehangatan—di Tanah Lada, tempat yang bisa mengabulkan harapan.
Buku ini mengambil sudut pandang Ava, jadi tak heran narasi yang dibawakan layaknya racauan anak kecil. Membaca buku ini seperti mendengarkan anak kecil bercerita. Kita akan dibawa untuk menyelami jalan pikiran mereka yang sederhana dan begitu polos, namun juga tidak fokus, khas celotehan anak-anak. Meskipun begitu, aku cukup dibuat takjub dengan pola pikir Ava yang terlihat lebih rumit dan dewasa dari usia-nya. Apalagi dengan kemampuan berbahasa Ava yang mencari arti kata dari kamus yang selalu ia bawa.
Jangan terkecoh dengan sampul bukunya yang terkesan colorful dan playful dengan tokoh utama yang masih anak-anak. Tau gak klo buku ini memiliki rating buku 16+? Well, gak heran sih karena buku ini memiliki vibe cerita yang gelap dan suram, cukup untuk membuat pembaca merasa frustasi, apalagi bagi mereka-mereka yang relate dengan ceritanya.
Buku ini mengangkat tema tentang toxic parents dimana Ava dan P merupakan korban dari kekejaman orang tua yang tidak bertanggung jawab. As children their age, they are entitled to happiness and unconditional affection from their parents. But in reality, they live a miserable life filled with fear and despair every day. Ava and P have to suffer without knowing why they're subjected to this tragedy.
I wish I could hug both of them and tell them that I understand their decision. Selayaknya nama yang diberikan Ava kepada P—Patibrata Praharsa—keduanya telah mendapatkan kebahagiaan sehidup semati.
The Midnight Library by Matt Haig
5.0
•recently read•
4.5/5⭐
•••
⚠️TW & CW: ATTEMPTED SUICIDE, ALCOHOLISM, DEPRESSION, DRUG ABUSE, MENTAL ILLNESS⚠️
The Midnight Library was my first encounter with Matt Haig's work. To be honest, I read this book because everyone raved about it, plus it had a magical realism premise and felt similar to one of my favorite books, Before the Coffee Gets Cold! I can't get enough of this book! Why didn't I read it sooner?
4.5/5⭐
•••
⚠️TW & CW: ATTEMPTED SUICIDE, ALCOHOLISM, DEPRESSION, DRUG ABUSE, MENTAL ILLNESS⚠️
The Midnight Library was my first encounter with Matt Haig's work. To be honest, I read this book because everyone raved about it, plus it had a magical realism premise and felt similar to one of my favorite books, Before the Coffee Gets Cold! I can't get enough of this book! Why didn't I read it sooner?
Semusim, dan Semusim Lagi by Andina Dwifatma
4.0
•recently read•
4/5⭐
❝Tetapi, senja sama belaka dengan semua hal di dunia ini: suatu ketika harus berakhir…
Kurasa itulah yang membedakan senja dengan ‘semua hal di dunia ini’. Amatlah mudah berpisah dengan sesuatu yang kautahu akan kembali lagi keesokan harinya. Tetapi di dunia nyata, setiap hal yang kaulepaskan akan pergi darimu tanpa pernah kembali lagi.❞
—Page 62
❝Jawabannya tertiup di angin. Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas, seolah-olah ada di depan wajahmu seolah-olah ada di depan wajahmu sedari tadi, hanya kau tak menyadarinya. Kebanyakan manusia seperti itu. Karena sibuk emncari di luar, ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri.❞
—Page 102
•••
Buku ini menceritakan kisah tokoh 'Aku', gadis berusia 17 tahun yang baru lulus SMA. 'Aku' memutuskan pergi ke Kota S yang asing setelah menerima surat dari ayah yang tak pernah ia jumpai sejak kecil. Tanpa sepengetahuan ibunya, 'Aku' pun berpetualang di Kota S dan bertemu orang-orang yang tak terbayangkan. Dari mulai J.J. Henri, Oma Jaya, Muara, Sobron si ikan raksasa, dan tentu saja sang ayah yang telah ia nantikan.
Hmmm... Jujur, aku masih kesulitan memproses cerita yang menjadi pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ 2012. Awalnya, aku kira buku ini akan bercerita tentang pencarian jati diri dari tokoh 'Aku'. Nyatanya aku salah besar! Menurutku, ceritanya begitu absurd, apalagi sejak kemunculan Sobron.
Buku dengan genre surreal fiction ini cukup membuatku kebingungan dan mempertanyakan berbagai hal. Bahkan hingga aku mencapai halaman terakhirnya, masih banyak misteri yang belum terjawab.
Buku ini sangat page-turner karena narasinya yang begitu detail, intens, dan eksploratif! Aku membaca buku ini dalam 2x rebahan—kemarin malam sebelum tidur dan tadi siang—dan tiba-tiba saja bukunya selesai! Aku dibuat penasaran untuk cepat-cepat menyelesaikan buku ini dan menebak-nebak bagaimana akhir kisah si tokoh 'Aku'. Ketika menutup buku ini, perasaan-ku pun campur aduk. Like, what the heck did I just read?
4/5⭐
❝Tetapi, senja sama belaka dengan semua hal di dunia ini: suatu ketika harus berakhir…
Kurasa itulah yang membedakan senja dengan ‘semua hal di dunia ini’. Amatlah mudah berpisah dengan sesuatu yang kautahu akan kembali lagi keesokan harinya. Tetapi di dunia nyata, setiap hal yang kaulepaskan akan pergi darimu tanpa pernah kembali lagi.❞
—Page 62
❝Jawabannya tertiup di angin. Itu bisa bermakna bahwa jawaban yang kaucari telah begitu jelas, seolah-olah ada di depan wajahmu seolah-olah ada di depan wajahmu sedari tadi, hanya kau tak menyadarinya. Kebanyakan manusia seperti itu. Karena sibuk emncari di luar, ia tidak menyadari apa yang dicarinya sudah ada dalam diri sendiri.❞
—Page 102
•••
Buku ini menceritakan kisah tokoh 'Aku', gadis berusia 17 tahun yang baru lulus SMA. 'Aku' memutuskan pergi ke Kota S yang asing setelah menerima surat dari ayah yang tak pernah ia jumpai sejak kecil. Tanpa sepengetahuan ibunya, 'Aku' pun berpetualang di Kota S dan bertemu orang-orang yang tak terbayangkan. Dari mulai J.J. Henri, Oma Jaya, Muara, Sobron si ikan raksasa, dan tentu saja sang ayah yang telah ia nantikan.
Hmmm... Jujur, aku masih kesulitan memproses cerita yang menjadi pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ 2012. Awalnya, aku kira buku ini akan bercerita tentang pencarian jati diri dari tokoh 'Aku'. Nyatanya aku salah besar! Menurutku, ceritanya begitu absurd, apalagi sejak kemunculan Sobron.
Buku dengan genre surreal fiction ini cukup membuatku kebingungan dan mempertanyakan berbagai hal. Bahkan hingga aku mencapai halaman terakhirnya, masih banyak misteri yang belum terjawab.
Buku ini sangat page-turner karena narasinya yang begitu detail, intens, dan eksploratif! Aku membaca buku ini dalam 2x rebahan—kemarin malam sebelum tidur dan tadi siang—dan tiba-tiba saja bukunya selesai! Aku dibuat penasaran untuk cepat-cepat menyelesaikan buku ini dan menebak-nebak bagaimana akhir kisah si tokoh 'Aku'. Ketika menutup buku ini, perasaan-ku pun campur aduk. Like, what the heck did I just read?
Kim Jiyoung, Born 1982 by Cho Nam-joo
5.0
•recently read•
4.5/5⭐
❝'So why didn't you become a teacher?'
'I had to work to send my brothers to school. That's how it was with everyone. All women lived like that back then.'
'Why don't you become a teacher now?'
'Now I have to work to send you kids to school. That's how it is with everyone. All mothers live like this these days.'❞
—Page 26-27
❝The world had changed a great deal, but the little rules, contracts, and customs had not, which meant the world hadn’t actually changed at all.❞
—Page 119
❝You said don’t just think about what I’ll be giving up. I’m putting my youth, health, job, colleagues, social networks, career plans and future on the line. No wonder all I can think about are the things I’m giving up. But what about you? What do you lose by gaining a child?❞
—Page 123-124
❝Help out? What is it with you and "helping out"? You're going to "help out" with chores. "Help out" with raising our baby. "Help out" with finding me a new job. Isn't this your house, too? Your home? Your child? And if I work, don't you spend my pay, too? Why do you keep saying "help out" like you're volunteering to pitch in on someone else's work?❞
—Page 131
❝Every field has its technological advances and evolves in the direction that reduces the amount of physical labor required, but people are particularly reluctant to admit that the same is true for domestic labor. Since she became a full-time housewife, she often noticed that there was a polarised attitude regarding domestic labor. Some demeaned it as 'bumming around at home,' while others glorified it as 'work that sustains life,' but none tried to calculate its monetary value. Probably because the moment you put a price on something, someone has to pay.❞
—Page 137
❝People who pop a painkiller at the smallest hint of a migraine, or who need anesthetic cream to remove a mole, demand that women giving birth should gladly endure the pain, exhaustion, and mortal fear. As if that’s maternal love.❞
—Page 139
•••
This book portrayed gender inequality and discrimination against women in a patriarchal society, both then and now. Through Kim Jiyoung's life, we can see everyday sexism, challenges, and hardships she has experienced as a woman from the moment she was born to the current day. All of this adds up to emotional buildup, which leads her to dissociative disorder.
Looking back on Kim Jiyoung's life was depressing. Also, realizing that most women who are subjected to systematic sexism and misogyny are simply unaware of it was frightening. I'm getting a wide range of emotions as I read this book, like anger, furious, sadness, fear, frustration, and, oh God, I'm not sure what else.
4.5/5⭐
❝'So why didn't you become a teacher?'
'I had to work to send my brothers to school. That's how it was with everyone. All women lived like that back then.'
'Why don't you become a teacher now?'
'Now I have to work to send you kids to school. That's how it is with everyone. All mothers live like this these days.'❞
—Page 26-27
❝The world had changed a great deal, but the little rules, contracts, and customs had not, which meant the world hadn’t actually changed at all.❞
—Page 119
❝You said don’t just think about what I’ll be giving up. I’m putting my youth, health, job, colleagues, social networks, career plans and future on the line. No wonder all I can think about are the things I’m giving up. But what about you? What do you lose by gaining a child?❞
—Page 123-124
❝Help out? What is it with you and "helping out"? You're going to "help out" with chores. "Help out" with raising our baby. "Help out" with finding me a new job. Isn't this your house, too? Your home? Your child? And if I work, don't you spend my pay, too? Why do you keep saying "help out" like you're volunteering to pitch in on someone else's work?❞
—Page 131
❝Every field has its technological advances and evolves in the direction that reduces the amount of physical labor required, but people are particularly reluctant to admit that the same is true for domestic labor. Since she became a full-time housewife, she often noticed that there was a polarised attitude regarding domestic labor. Some demeaned it as 'bumming around at home,' while others glorified it as 'work that sustains life,' but none tried to calculate its monetary value. Probably because the moment you put a price on something, someone has to pay.❞
—Page 137
❝People who pop a painkiller at the smallest hint of a migraine, or who need anesthetic cream to remove a mole, demand that women giving birth should gladly endure the pain, exhaustion, and mortal fear. As if that’s maternal love.❞
—Page 139
•••
This book portrayed gender inequality and discrimination against women in a patriarchal society, both then and now. Through Kim Jiyoung's life, we can see everyday sexism, challenges, and hardships she has experienced as a woman from the moment she was born to the current day. All of this adds up to emotional buildup, which leads her to dissociative disorder.
Looking back on Kim Jiyoung's life was depressing. Also, realizing that most women who are subjected to systematic sexism and misogyny are simply unaware of it was frightening. I'm getting a wide range of emotions as I read this book, like anger, furious, sadness, fear, frustration, and, oh God, I'm not sure what else.