Take a photo of a barcode or cover
devipurwanti's reviews
14 reviews
3.75
Dari segi riset, aku belum bisa memastikan kedalamannya karena ini bacaan pertamaku soal Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, salah satu tokoh penting DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Catatan personal, aku nggak sependapat dengan DI/TII yang digerakkannya. Aku bukan menolak sistem kepemimpinan terpusat di satu imam, hanya saja aku masih mempertanyakan implementasi dan siapa yang memegang kendali.
Buku ini juga banyak menyoroti perspektif anak bungsunya, Sardjono Kartosoewirjo, tapi aku justru lebih tertarik dengan perspektif istrinya, Dewi Siti Kalsum, yang kiprahnya hanya ditekankan di awal buku. Selain itu, keterlibatan tokoh-tokoh lain yang senapas dengan Kartosoewirjo seperti Daud Beureuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan juga diceritakan. Lebih khusus, upaya Kahar Muzakkar menghapus gelar haji dan warisan feodal menarik bagiku.
Soal objektivitas, aku juga belum bisa menilai, tapi yang jelas ada sorotan kritis dari Tempo terhadap pengadilan militer yang punya potensi bias,
Secara keseluruhan, buku ini cukup berkesan buatku, apalagi setelah berkunjung ke Museum H.O.S. Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya, aku jadi tertarik ngulik lebih jauh para penghuni kos yang pernah belajar bersama, tetapi kemudian menempuh jalan ideologi masing-masing.
Graphic: Death, Colonisation, War
Moderate: Gun violence
4.0
Dari segi terjemahan, bahasanya mudah dipahami, tapi aku belum nyaman sama penggunaan seperti “saya” dan “aku” atau “tidak” dan “nggak” dalam satu kalimat. Aku kurang paham apakah ini inkonsistensi atau cara penerjemah menegaskan perbedaan situasi resmi dan santai dalam cerita. Kesalahan minor cetak seperti paragraf yang terulang juga sempat membingungkan.
Selain itu, alur maju-mundurnya menuntut ketelitian pembaca biar nggak tersesat dalam perubahan waktu. Akhir yang agak menggantung mungkin menegaskan kebebasan Raul hanyalah semu. Dalam sistem represif, keadilan nggak pernah pasti, bahkan bagi yang nggak bersalah.
Graphic: Physical abuse, Torture, Police brutality, Sexual harassment
4.0
Sudut pandang yang dipakai juga nggak kalah seger. Nggak cuma dari manusia atau hewan, tapi juga dari benda mati, seperti benteng. Ini bikinku makin tertarik buat eksplor bacaan lain yang pakai sudut pandang serupa, apalagi belakangan aku terpapar pandangan kalau benda yang kita anggap mati sebenarnya punya kehidupan sendiri.
Sebab, tema yang diangkat masih terus relevan, dari kebebasan berekspresi, kontrol negara lewat penyensoran dan pengerahan preman (preman berseragam maupun tanpa seragam), sampai konsekuensi bagi mereka yang melawan. Nggak asing kan? Ada satu kutipan yang membekas: “Selama di negeri ini tidak ada keadilan, kami lebih memilih pergi atau diasingkan.”
Ada momen di mana nama Martha Christina Tiahahu disebut, dan aku langsung membatin, “Akhirnya, ketemu lagi tokoh perempuan yang bukan hanya jadi korban.” Sempat nemu kesalahan ketik ringan, tapi nggak sampai ganggu pengalaman membaca.
Graphic: Slavery, Murder, Colonisation, War, Classism
Moderate: Gun violence, Rape, Alcohol
Minor: Suicide, Injury/Injury detail
4.0
Buku ini juga menyadariku bahwa ada banyak sekali kisah perempuan yang dipinggirkan dalam sejarah. Baik perempuan Jawa maupun perempuan Buru, keduanya mengalami kekerasan yang sama akibat kolonialisme dan patriarki. Semoga damai menyertai mereka yang telah berjuang.
Graphic: Misogyny, Sexism, Sexual violence, Torture, Colonisation, War
Moderate: Adult/minor relationship, Domestic abuse, Pedophilia
- Flaws of characters a main focus? Yes
3.5
Satu hal yang bikin ku mikir, perempuan-perempuan Belanda dalam buku ini digambarkan begitu ekspresif, bahkan cenderung menggoda. Sementara itu, perempuan bumiputera juga ekspresif, tapi lebih hati-hati dalam bertindak. Meski begitu, karakter Woengoe menyelipkan sisi berdaya perempuan. Dia menyoroti kerja domestik semestinya nggak dibatasi gender dan mendukung pergerakan perempuan. Jadi, apakah ini memang realitas saat itu atau lebih karena sudut pandang penulis laki-laki?
Graphic: Racism, Colonisation, Classism
Minor: Abortion
4.5
AWK bisa membantu lebih sadar dalam menyusun kata-kata serta lebih kritis dalam memahami dan menilai makna di balik suatu teks, terutama ketika itu bersinggungan dengan bagaimana kelompok dominan—dengan segala keleluasaan aksesnya—membingkai kelompok marginal dan memengaruhi opini publik.
Graphic: Misogyny, Rape, Sexism, Police brutality, Murder, Colonisation, War, Classism
4.5
Graphic: Child death, Death, Mental illness, Sexism, Suicide, Blood, Police brutality, Abortion, Murder, Schizophrenia/Psychosis
Moderate: Religious bigotry
Minor: Bullying, Gun violence, Infertility
3.5
Lebih lanjut, pemahaman tentang bagaimana film dengan aliran neo realisme sering kali sepi peminat, dan bahwa film sering dianggap sebagai bentuk eskapisme semata, mengingatkanku pada kritik para pemikir kritis yang menilai film adalah salah satu cara kapitalisme memperdaya kita.
Meskipun dari segi teknis, aku masih menemukan beberapa kesalahan penulisan dan kejanggalan spasi yang sedikit mengganggu kenyamanan membaca. Namun, buku ini patut dibaca, terutama bagi penikmat film, pekerja di industri film, atau siapa aja yang tertarik pada sejarah dan budaya.
Graphic: Colonisation