devipurwanti's reviews
14 reviews

Paya Nie by Ida Fitri

Go to review page

reflective medium-paced

4.0

Kartosoewirjo: Mimpi Negara Islam by Nugroho Dewanto, Tim Buku TEMPO

Go to review page

informative reflective medium-paced

3.75

Buku ini cukup enak dibaca dengan bahasa yang mudah dipahami, meskipun pembahasannya terasa repetitif dan jumlah tokoh yang banyak bikin agak pusing wkwkwk. Bisa dimaklumi karena ini biografi yang butuh banyak konteks biar lebih jelas.

Dari segi riset, aku belum bisa memastikan kedalamannya karena ini bacaan pertamaku soal Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, salah satu tokoh penting DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Catatan personal, aku nggak sependapat dengan DI/TII yang digerakkannya. Aku bukan menolak sistem kepemimpinan terpusat di satu imam, hanya saja aku masih mempertanyakan implementasi dan siapa yang memegang kendali.

Buku ini juga banyak menyoroti perspektif anak bungsunya, Sardjono Kartosoewirjo, tapi aku justru lebih tertarik dengan perspektif istrinya, Dewi Siti Kalsum, yang kiprahnya hanya ditekankan di awal buku. Selain itu, keterlibatan tokoh-tokoh lain yang senapas dengan Kartosoewirjo seperti Daud Beureuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan juga diceritakan. Lebih khusus, upaya Kahar Muzakkar menghapus gelar haji dan warisan feodal menarik bagiku.

Soal objektivitas, aku juga belum bisa menilai, tapi yang jelas ada sorotan kritis dari Tempo terhadap pengadilan militer yang punya potensi bias,
di mana semua pihak dalam proses ini, termasuk kuasa hukumnya, ditunjuk langsung oleh militer.
Ini memunculkan konflik kepentingan dan hak terdakwa yang terbatas.
Buku ini juga menegaskan keterbatasan media massa dan sumber netral dalam meliput persidangan ini, karena dilakukan secara tertutup.


Secara keseluruhan, buku ini cukup berkesan buatku, apalagi setelah berkunjung ke Museum H.O.S. Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya, aku jadi tertarik ngulik lebih jauh para penghuni kos yang pernah belajar bersama, tetapi kemudian menempuh jalan ideologi masing-masing.

Expand filter menu Content Warnings
1970 by Henrique Schneider

Go to review page

dark reflective tense fast-paced

4.0

1970 karya Henrique Schneider menghadirkan kontras tajam: kejayaan Brasil dalam sepak bola di tengah represi rezim militer Médici, terutama terhadap mereka yang dicap komunis.

Melalui karakter Raul, laki-laki yang hidupnya hanya berputar dalam rutinitas monoton, novel ini menyenggol mereka yang merasa aman di tengah gejolak politik, padahal bahaya selalu mengintai siapa pun. Negara dalam cerita ini bebas melakukan kekerasan tanpa ada konsekuensi, dari penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan selama penahanan, sampai pola intimidasi dan diskriminasi yang terus membayangi eks tahanan bahkan setelah mereka dibebaskan.

Eks tahanan hidup dalam rasa waspada dan curiga, seolah kekerasan bisa terulang kapan saja, nggak hanya pada dirinya, tetapi juga keluarganya. Perspektif dalam novel ini juga nggak hanya berpusat pada Raul. Ibunya, Irene, dengan kegigihannya mencari anaknya, dari bertanya ke tetangga, mendatangi polisi, menghubungi media, sampai minta bantuan tokoh agama, juga mendapat sorotan.

Dari segi terjemahan, bahasanya mudah dipahami, tapi aku belum nyaman sama penggunaan seperti “saya” dan “aku” atau “tidak” dan “nggak” dalam satu kalimat. Aku kurang paham apakah ini inkonsistensi atau cara penerjemah menegaskan perbedaan situasi resmi dan santai dalam cerita. Kesalahan minor cetak seperti paragraf yang terulang juga sempat membingungkan. 

Selain itu, alur maju-mundurnya menuntut ketelitian pembaca biar nggak tersesat dalam perubahan waktu. Akhir yang agak menggantung mungkin menegaskan kebebasan Raul hanyalah semu. Dalam sistem represif, keadilan nggak pernah pasti, bahkan bagi yang nggak bersalah. 

Expand filter menu Content Warnings
Berburu Buaya di Hindia Timur by Risda Nur Widia

Go to review page

adventurous informative reflective medium-paced

4.0

Gaya tulisan Risda Nur Widia di Berburu Buaya di Hindia Timur tuh seger dan tengil. Seger karena cerpen dalam buku ini (ada enam) punya format yang cukup beragam.

Misalnya, ada satu bagian yang ditulis seperti artikel ilmiah lengkap dengan abstrak, pendahuluan, pembahasan, dan kesimpulan. Ini aja udah bikinku tergelitik. Lebih lanjut, di bagian lain dia nunjukkin kalau dia paham betul—pembaca cenderung lebih tertarik sama aksi heroik daripada kekalahan, dan itu tercermin dari cara dia nyetir jalan ceritanya wkwkwk.

Sudut pandang yang dipakai juga nggak kalah seger. Nggak cuma dari manusia atau hewan, tapi juga dari benda mati, seperti benteng. Ini bikinku makin tertarik buat eksplor bacaan lain yang pakai sudut pandang serupa, apalagi belakangan aku terpapar pandangan kalau benda yang kita anggap mati sebenarnya punya kehidupan sendiri.

Secara latar, buku ini berpusat di Hindia Belanda, terutama di Jawa, tapi juga melebar ke Ambon dan belahan dunia lain di masa ekspedisi kolonial buat mencari wilayah yang bisa dieksploitasi sumber dayanya. Menuju bagian akhir, aku makin terkesan, terutama dengan cerpen 1913.

Sebab, tema yang diangkat masih terus relevan, dari kebebasan berekspresi, kontrol negara lewat penyensoran dan pengerahan preman (preman berseragam maupun tanpa seragam), sampai konsekuensi bagi mereka yang melawan. Nggak asing kan? Ada satu kutipan yang membekas: “Selama di negeri ini tidak ada keadilan, kami lebih memilih pergi atau diasingkan.”
Damn. Bro udah kepikiran #KaburAjaDulu.

Setelah baca ini, aku makin penasaran juga buat ngulik Perang Jawa dan kekuatan mistis, sesuatu yang berbenturan sama akalku. Juga, soal gimana preman pertama kali digunakan pemerintah buat melenyapkan perlawanan, asal-usul kata “monyet” jadi makian, dan gimana penahanan rumahan ternyata masih lebih ringan daripada pengasingan.

Ada momen di mana nama Martha Christina Tiahahu disebut, dan aku langsung membatin, “Akhirnya, ketemu lagi tokoh perempuan yang bukan hanya jadi korban.” Sempat nemu kesalahan ketik ringan, tapi nggak sampai ganggu pengalaman membaca.

Expand filter menu Content Warnings
Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer by Pramoedya Ananta Toer

Go to review page

adventurous dark emotional informative reflective sad slow-paced

4.0

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer nggak hanya memuat sudut pandang Pram, tetapi juga hasil wawancara dan laporan para tahanan politik 1965–66 selama masa pengasingan mereka di Pulau Buru. Salah satu hal yang baru aku ketahui bahwa bukan hanya mereka yang pernah mendiami Pulau Buru, tetapi jauh sebelumnya sudah ada perempuan-perempuan yang menjadi korban kejahatan perang Jepang. Mereka berasal dari golongan terpelajar di Jawa yang awalnya dijanjikan kesempatan melanjutkan pendidikan ke Jepang.
Namun, kenyataannya mereka justru mengalami perbudakan seksual oleh tentara Jepang.

Setelah Perang Dunia II berakhir dan Jepang kalah, mereka nggak dipulangkan. Sebagian memilih untuk nggak kembali, terikat oleh berbagai alasan,
mulai dari perasaan menjadi beban bagi keluarga hingga sumpah adat
. Mereka mengalami kekerasan berlapis, nggak hanya dari sistem kolonial, tetapi juga dari hukum adat yang melihat perempuan hanya sebagai komoditas.

Di tengah situasi ini, ada satu perempuan yang diceritakan sebagai simbol perlawanan terhadap hukum adat
yang memperbolehkan perampasan perempuan sebagai istri
, dan kisahnya terus diwariskan di tengah masyarakat Pulau Buru. Perjalanan mengungkap kisahnya diceritakan secara apik di bagian akhir buku. Bagian ini terasa seperti laporan fieldwork, menyinggung juga keterbatasan akses pengobatan, serta gimana masyarakat adat menghadapi kolonialisme dan masuknya agama-agama Abrahamik.

Sementara itu, momen-momen ketika para tapol bertemu dengan perempuan korban kejahatan perang Jepang selalu membuatku emosional. Aku juga cocok dengan cara penulis menyusun buku ini, di mana bab-bab awal memuat kesimpulan, yang membantuku lebih mudah mengingat poin-poin penting. Sayangnya, keterbatasan bahasa tanpa selalu dilengkapi terjemahan bikin ngos-ngosan memahaminya.

Buku ini juga menyadariku bahwa ada banyak sekali kisah perempuan yang dipinggirkan dalam sejarah. Baik perempuan Jawa maupun perempuan Buru, keduanya mengalami kekerasan yang sama akibat kolonialisme dan patriarki. Semoga damai menyertai mereka yang telah berjuang.

Expand filter menu Content Warnings
Student Hidjo: Sebuah Novel by Marco Kartodikromo, Marco Kartodikromo

Go to review page

inspiring reflective fast-paced
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.5

Awalnya, kupikir Student Hidjo bakal banyak menyoroti pengalaman Hidjo belajar di Belanda sebagai bentuk “pembebasan.” Ternyata, begitu sampai di sana, dia justru lebih banyak bergulat dengan hal-hal yang menggoyahkan niat belajarnya, terutama perempuan.

Satu hal yang bikin ku mikir, perempuan-perempuan Belanda dalam buku ini digambarkan begitu ekspresif, bahkan cenderung menggoda. Sementara itu, perempuan bumiputera juga ekspresif, tapi lebih hati-hati dalam bertindak. Meski begitu, karakter Woengoe menyelipkan sisi berdaya perempuan. Dia menyoroti kerja domestik semestinya nggak dibatasi gender dan mendukung pergerakan perempuan. Jadi, apakah ini memang realitas saat itu atau lebih karena sudut pandang penulis laki-laki?

Aku juga sempat berharap ada perkembangan karakter dari Hidjo
—dari yang people pleaser menjadi lebih tegas, terutama dalam menolak hal-hal yang dia anggap “bahaya.”
Tapi menjelang akhir cerita, dia masih aja terjebak dalam situasi yang sama. Mungkin aku juga melihatnya dengan bias zaman sekarang, mengingat buku ini terbit lebih dari seabad yang lalu. Selain itu, kelas sosial Hidjo juga sangat menentukan masa depannya.
Meskipun dia nggak menyelesaikan studinya di Belanda, dia dapat jabatan bagus di kampung halamannya.

Meskipun buku ini nggak banyak memperlihatkan pengalaman belajar Hidjo, Mas Marco justru menghadirkan bentuk pembelajaran lain—dengan membantah stereotip kolonial yang menggambarkan bumiputera sebagai bangsa yang malas, bodoh, dan kriminal.
Menariknya, kritik ini disampaikan melalui karakter pejabat Belanda sendiri.
Nggak heran kalau buku ini dan pemikiran Mas Marco lainnya bikin pemerintah kolonial ketar-ketir sampai akhirnya dia diasingkan ke Boven Digoel.

Dari segi bahasa, buku ini juga bikin aku mengingat kembali kosakata lama yang jarang ku temui sekarang, kayak handai taulan, melancong, plesiran, dan setali tiga uang. Ada juga banyak kosakata Belanda, sayangnya nggak selalu disertai catatan kaki.

Expand filter menu Content Warnings
Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media by Eriyanto

Go to review page

informative reflective slow-paced

4.5

Salah satu buku terbaik yang aku baca tentang analisis wacana. Banyak sekali pertanyaanku yang akhirnya terjawab di sini. Pembahasannya cukup menyeluruh, mulai dari perbedaan antara analisis wacana dan analisis wacana kritis (AWK), konsep wacana menurut Foucault, berbagai model AWK, sampai studi kasus. Meskipun materinya rodok mumeti, gaya penulisan Eriyanto cukup gampang dipahami.

AWK bisa membantu lebih sadar dalam menyusun kata-kata serta lebih kritis dalam memahami dan menilai makna di balik suatu teks, terutama ketika itu bersinggungan dengan bagaimana kelompok dominan—dengan segala keleluasaan aksesnya—membingkai kelompok marginal dan memengaruhi opini publik.

Expand filter menu Content Warnings
Kebun Jagal by Putra Hidayatullah

Go to review page

dark emotional reflective tense medium-paced

4.5

Saat pertama kali melihat buku ini di etalase lapak buku, aku langsung tertarik dengan judulnya. “Kebun” identik dengan sesuatu yang ditanam, dirawat, dan memberi manfaat, sedangkan “jagal” justru berkonotasi kelam. Kombinasi dua kata yang bertolak belakang ini membuatku semakin penasaran buat mengulik isinya. Beberapa cerita dalam buku ini memang berangkat dari premis yang unik, bahkan absurd, tetapi pada akhirnya mengarah pada kritik sosial.

“Kebun Jagal” adalah kumpulan cerita pendek yang mengangkat berbagai isu kemanusiaan, dari peristiwa 1965–66, konflik agraria, brutalitas aparat, diskriminasi terhadap kelompok minoritas atau rentan, kesehatan mental, hingga eksploitasi praktik klenik. Meskipun aku perlu menangkap ulang bagaimana penulis membingkai karakter-karakter perempuan, tetapi ceritanya bisa menawarkan kesadaran baru bagi pembaca.

Expand filter menu Content Warnings
Politik film di hindia Belanda by M. Sarief Arief

Go to review page

informative reflective fast-paced

3.5

“Politik Film di Hindia Belanda” adalah skripsi yang dibukukan oleh M. Sarief Arief. Buku ini secara umum membahas perkembangan perfilman pada masa penjajahan Belanda di Hindia Belanda dan bagaimana peraturan terkait film berdampak pada perkembangan industri film itu sendiri.

Melalui buku ini, aku memahami asal mula sistem penyensoran yang masih ada hingga kini, serta siapa aja yang berhak menonton film berdasarkan kelas sosialnya. Awalnya, hanya bangsawan Eropa yang bisa dengan mudah mengakses film, sedangkan penyensoran film digunakan sebagai alat pemerintah kolonial untuk menundukkan penduduk lokal, yang semakin menguat sebagai alat propaganda saat penjajahan Jepang berikutnya.

Lebih lanjut, pemahaman tentang bagaimana film dengan aliran neo realisme sering kali sepi peminat, dan bahwa film sering dianggap sebagai bentuk eskapisme semata, mengingatkanku pada kritik para pemikir kritis yang menilai film adalah salah satu cara kapitalisme memperdaya kita.

Meskipun dari segi teknis, aku masih menemukan beberapa kesalahan penulisan dan kejanggalan spasi yang sedikit mengganggu kenyamanan membaca. Namun, buku ini patut dibaca, terutama bagi penikmat film, pekerja di industri film, atau siapa aja yang tertarik pada sejarah dan budaya.

Expand filter menu Content Warnings