blackferrum's reviews
671 reviews

My Boss's Baby by Anothermissjo

Go to review page

lighthearted fast-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? No
  • Loveable characters? No

1.5

Agak nggak yakin nulis bagian sinopsis karena kenyataannya melenceng banget sama alur. But, let's try. Jadi, Antari bangun di ranjang, kamar, dan rumah bosnya, lalu mendengar suara bayi. Si bos, Dimas, mengakui jika bayi itu anaknya dan istrinya meninggalkan mereka begitu saja. Antari tidak akan kelabakan jika Dimas tidak memintanya menjadi pendamping sekaligus ibu dari anaknya.

Oke, kurang lebih isinya begitu, tapi alurnya memang melenceng. Keterlibatan si bayi (yang aku lupa namanya, btw) memang ada, tapi habis itu eksistensinya nggak terlalu diperlukan lagi. Oh, ada di konflik akhir yang ngga begitu menonjol omong-omong.

Kupikir karena ini judulnya bayi bosku jadi harusnya si bayi punya andil cukup besar di alur. Plus konfliknya juga menyerempet keberadaan si bayi.

Konflik pertama muncul berkenaan dengan keluarga Dimas, lalu masa lalunya, lalu seseorang yang mengklaim menjadi ibu bayinya.

Hal yang cukup bikin gerah adalah jembatan antara satu konflik ke konflik lain. Serius, kenapa harus pakai orang ketiga dan pakai cara-cara yang bikin jealous para karakter utama? Sama sekali bukan masalah jika memakai cara di atas, tapi ya nggak semua harus pakai orang ketiga, hiks.

Karakterisasinya lumayan dan voice-nya at least bisa dibedakan. Yah, itu poin bagusnya. Selain itu, kurasa sesukanya penulis.

Buku ini memang bukan mangkukku dan ini buku pertama penulis yang kubaca. Semoga bisa bertemu dengan buku lain penulis yang lebih cocok.
If I Met You First by Thessalivia

Go to review page

emotional lighthearted reflective medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.75

Kehidupan Riana nyaris sempurna. Karier bagus, keluarganya harmonis, tapi sayang percintaannya nyaris hancur. Berkali-kali diputuskan, padahal usahanya menjaga agar sang pacar tetap berada di sisinya sudah sangat keras, terlalu keras malah. Lalu Ardi datang seperti biasa, layaknya seorang sahabat yang selalu menjadi bumper-nya. Namun, Riana ternyata menginginkan lebih.

Perhatian Ardilah yang membantunya mengucapkan sederet keinginan saat berdiri di depan mesin dingdong misterius di sebuah kedai milik kakek tua di Hongkong. Riana ingin bahagia dan dia ingin Ardi bertemu dengannya lebih dulu daripada Vanka. Hanya muncul asap putih tipis ketika jawaban mesin itu muncul. Riana tidak berharap banyak. Setidaknya setelah kembali ke Indonesia dan mendapat Ardi tidak kenal dengan Vanka, tunangan dan calon istrinya.

Merasa mendapat kesempatan merebut hati Ardi, Riana melakukan segala cara agar menjadikan lelaki itu kekasihnya, karena ternyata Ardi sangat berarti dan berpengaruh dalam hidup Riana, lebih dari yang dia kira. Namun, Riana lupa. Takdir Tuhan tidak bisa diubah, sekalipun dengan keajaiban.

Rasanya nggak ingat berapa kali mengumpati karakter Riana yang nyebelin kuadrat. Ketika dapat kesempatan menjadikan Ardi sebagai pacar, jelas sekali dia nggak memikirkan hal lain, apalagi merasakan gundah pada Vanka. Later, ketika mereka akhirnya bersilangan jalan, rasa bersalah itu tetap tidak ada. Jujur, sulit bersimpati dengan karakter yang bersifat seperti ini.

Pesan yang disampaikan lewat karakter Riana bagus: jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Riana terlalu memaksa menyesuaikan diri pada wadah yang nggak seharusnya. Ketika wadahnya berbentuk bulat, dia ingin memasukkannya pada lubang berbentuk segitiga. Susah dan di sinilah peran dua sahabatnya, Ardi dan Clarisa, membawa Riana untuk tetap berada di jalannya. Kalau bisa sekalian mencari akar masalahnya.

Latar belakang masalah dan "why" terbesar Riana jadi salah satu yang bikin aku sadar dan harus melihat segala keburukan (keganjilan, ketidaksesuaian, you name it) dari segala sisi. Oh, ini justru jadi poin bagus karena karakternya punya layer.

Bacaan yang menyenangkan dan sarat makna.

Ps: Waktu dia balik ke Hongkong dan keinginannya dibatalkan, Riana tetap ngerasa dia yang paling tersakiti karena harus melepas Ardi. Kalau misalkan sedih sih, masih bisa dimaklumi. Namanya juga baru berpisah dengan khayalan indah wkwk, tapi ini enggak. Untung beneran tobat di akhir, jadi termaafkan hehe.
Stargirl by Jerry Spinelli

Go to review page

dark emotional funny informative inspiring lighthearted reflective fast-paced
  • Plot- or character-driven? A mix
  • Strong character development? Yes
  • Loveable characters? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

4.75

Seperti biasa, buku berbintang penuh (lima) atau hampir berbintang penuh (around 4,5 ke atas) pasti susah menjelaskan kenapa bukunya deserve Bintang segitu dan yang pasti, kenapa bagus.

Oke, mari urai satu per satu alasan buku ini bagus sesistematis yang kubisa.

Pertama, Stargirl Caraway bukan sekadar karakter atau tokoh dalam cerita. She is us. Seperti kata Archie (guru tidak resmi para karakter di buku ini), Stargirl terlihat mencolok dan dianggap aneh oleh sebagian besar siswa-siswa di sekolah, tapi setelah kemunculannya, banyak orang mulai melakukan sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan. Seperti misalnya datang ke pertandingan. Setelah Stargirl datang ke stadion, melakukan aksi yang disebutnya sebagai dukungan dan kegembiraan, banyak orang dari SMA Mica datang menonton.

Perubahan situasi ini membuat Leo, si karakter utama, mau tidak mau semakin memperhatikan sosok Stargirl, seperti sebagian besar siswa di SMA Mica. Stargirl berhasil menampilkan true color yang dengan terpaksa dikubur demi bisa membaur dengan sekitar dengan dalih keseragaman. Banyak orang yang punya sifat unik, tapi takut dianggap berbeda dan akhirnya malu menunjukkannya.

Kedua, buku ini soal apa, sih? I wonder too. Awalnya kupikir alurnya macam high school girl, karakter utama punya dandanan berbeda lalu mencoba fit-in sama lingkungan, sebelum mengalami dinamika hubungan yang naik turun lalu kembali ke true herself. Well, sebagian besar memang ceritanya seperti itu, tetapi cara penulis menjelaskan "why" ke pembaca bahwa menyesuaikan diri ke lingkungan nggak selalu mengubah total identitas kita itu bukan hal buruk.

Ketiga, latar di buku ini seolah mendukung penjelasan yang lagi-lagi "why" untuk Stargirl. Ini kutipan dialog di halaman 14 antara Kevin Dan Leo:
"Mudah-mudahan saja cewek itu tidak benar-benar 'ajaib' kayak begitu."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kalau sifatnya memang nyentrik begitu, bisa-bisa dia kena masalah. Kupikir berapa lama orang yang benar-benar 'ajaib' begitu bisa bertahan di lingkungan ini?"

Lingkungan yang dimaksud adalah situasi yang biasa; tanpa semangat, tanpa kejutan. Kedatangan Stargirl bagaikan permen Dancing Pop yang kita ketahui akan menimbulkan letupan menyenangkan di mulut, meskipun tidak bisa memprediksi pada detik berapa kita mendapatkannya dan akan sebesar apa letupan yang kita dapat dengan jumlah tertentu.

Intinya, stigma soal berlau "normal" yang banyak kita adopsi selama ini terbantahkan dengan melihat cara Stargirl menjalani dan menikmati hidupnya sendiri.

Keempat, there's romance here. Bahkan, kisah romansanya sangat memengaruhi alur. Ada perubahan yang cukup drastis pada kepribadian Stargirl. Enggak bisa dijelaskan karena akan berpotensi membocorkan alurnya, tapi yang pasti, pembaca lagi-lagi akan dibuat tersentil, termenung, dan berakhir ikut mengeluarkan air mata untuk sosok Stargirl Caraway.

Oke, kalau diteruskan bakal amat panjang. There's one sentence can describe this whole book: "Different don't make you look weird." Kayaknya sering banget baca di beberapa tempat menjadi beda bukan suatu hal yang aneh. So, there's Stargirl.

I would like giving five (or ten) stars, tapi typo-nya mengganggu jujur. Memang nggak terlalu banyak, tapi tetap mengganggu. Menurutku buku ini sudah sangat sempurna. Jadi, aku berharap isinya bebas dari salah ketik (ini cetakan kedua, btw).

EVERYONE SHOULD READ THIS BOOK ONCE IN A LIFETIME!!!
Dinara by Vinnara

Go to review page

emotional lighthearted reflective medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.0

Ditinggalkan calon mendekati hari pernikahan tidak membuat Dinara gentar, justru ide gila muncul ketika seorang lelaki datang ke hidupnya dengan cara yang aneh. Dinara menawarkan pernikahan pada si lelaki asing sebagai bagian dari entah niat apa. Awalnya, ide itu dianggap gila oleh Arya, tetapi akhirnya mereka setuju menjalani pernikahan dan berhasil meyakinkan keluarga masing-masing untuk melanjutkan pernikahan yang terancam gagal.

Namun, masalah datang setelahnya. Perjuangan Dinara tidak pernah mudah, mulai dari penolakan yang terang-terangan ditunjukkan oleh keluarga inti Arya, sampai kedatangan sosok masa lalu sang suami. Ketika sebuah berita menggembirakan datang, badai kerisauan juga ikut menampakkan diri. Dinara ingin egois, memiliki Arya untuk diri sendiri. Ketika akhirnya sang suami tidak bisa memberikan ketegasan pada hatinya, rumah tangga mereka menjadi taruhannya.

Dinara adalah gambaran karakter wanita mandiri yang banyak di-mention di beberapa diskusi. Caranya menghadapi keluarga Arya, berusaha tegar ketika dihadapkan dengan masa lalu, dan menghadapi konflik. Semua dilakukan tanpa ada drama berlebih. Tapi, di sisi lain masih manusiawi. Dia merasakan sedih dan sakit yang terkadang malah nggak dia sadari.

Gambaran Dinara cocok dengan kepribadian Arya yang masih terjebak dengan nostalgia masa lalu plus nggak bisa tegas dengan perasaan sendiri.

Antagonis di sini sebenarya bukan dalam bentuk tokoh, lebih ke sifat keduanya yang nggak bisa sealing mengungkapkan masalah beserta mencari solusi bersama. Kalau Diana itu kasusnya udah masuk vilain. 

Buku ini bagus. Aku suka cara nulisnya yang rapi (setelah beberapa kali baca buku dari penerbit terkait yang agak berantakan tulisannya), tapi konflknya bikin gemas maksimal. Yah, karakter yang bikin pembaca greget, gemas, kesal, mangkel, you name it, mengindikasikan keberhasilan penulis menciptakan karakter tersebut dan masuk ke ingatan pembaca lalu membekas. Yap, Diana ini membekas sampai aku nulis reviu ini. Tapi, aku menolak bilang Diana adalah karakter sukses, alih-alih tokoh resek yang sangat jahat.

Mengingat latar belakang Diana yang begitu, justru rasa simpatiku hilang. I truly mad at her. Alasannya datang lagi karena mau menuntut hak? HAK? She must be kidding me. Dia yang berbuat salah duluan, kenapa minta hak? Lagi pula, apa yang menimpa keluarganya itu bukan salah Arya. Kalau mau "ancam", kenapa nggak ke keluarga Arya aja? Nggak berani, kah?

Alasan apa pun, termasuk keadaannya pas lagi sakit nggak bisa dijadikan alasan. Jahatnya keterlaluan. Plin-plan pula. Entahlah, rasanya sulit merasakan empati mendalam ketika karakternya nggak bisa konsisten. Di depan Dinara begini, lalu tobat di depan Arya. Kayaknya dia emang murni jahat, deh, bukan karena kondisinya yang lagi sakit.

Hal yang aku suka di buku ini mungkin semua kecual konflik bernama Diana ini. Dengan sangat terpaksa, bintangnya harus dikurangi satu.
Lokananta by Aji Fauzi, Puguh P.S Admaja, Aris Kalamtara

Go to review page

inspiring lighthearted reflective fast-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

2.5

Ananta kabur ke Manado ketika kalah dalam sebuah kompetisi band karena enggan menepati janji pada ayahnya untuk melanjutkan studi ke Mesir. Dalam pelariannya, dia bertemu pemuda lokal yang berusaha keras mengenalkan alat musik kolintang pada anak muda di daerahnya. Ananta tidak bisa memungkiri rasa bahagianya ketika menemukan seseorang yang punya ambisi sama dengannya.

Namun, sayang, sinergi mereka menciptakan kombinasi antara kolintang dan alat musik modern yang dikuasai Ananta malah membuat group kolintang yang susah payah dibentuk Loka terancam bubar. Hubungan keduanya pun dirasa tidak memiliki harapan. Ananta harus menelan kekecewaan ketika mengetahui hal besar yang selama ini Loka sembunyikan, serta merelakan pelarian singkatnya ketika ayahnya datang menjemput.

Buku ini membahas soal passion dan keinginan mewujudkan hal tersebut dalam keadaan yang amat tidak pasti dan mendesak untuk diakhiri. Meskipun halamannya kurang dari 200, ambisi Ananta digambarkan dengan baik. Sikapnya yang cenderung rebel menjadi contoh nyata sebagian remaja yang ingin menekuni apa yang menjadi kesenangan dan bakatnya. Lalu peran Abi menjadi antagonis dalam cerita dengan berbagai trauma di latar belakangnya.

Semua unsurnya masuk dengan seleraku, sampai karakterisasi Loka yang keras kepala terasa mulai mengganggu. Harusnya ini jadi hal yang bagus, dong? Yep, but I declined what he did in the ending. Kayak apa ya, dia ngeyelnya nggak masuk akal saja. Dia tahu kenyataannya, tapi masih nekat berbuat begitu? Wah, citra okenya langsung luruh.

Adek-adek, Loka ini contoh bulol yang harus kalian hindari sifatnya, oke? Cinta memang menyenangkan dan bisa mendatangkan kebahagiaan, tapi bahagia itu nggak akan bertahan jika kalian punya perbedaan prinsip dan keadaan memang sudah tidak memungkinkan untuk bersama.

Oh, sikap abinya Ananta ini juga somehow mengganggu. Lama-lama ekstrem juga sampai harus bawa polisi buat menangani masalah. I know, itu berarti dia sayang banget sama anaknya, tapi perilakunya justru bikin sesak. Poor Ananta :(
hh
Buku ini cocok buat yang lagi cari bacaan dengan jumlah halaman <200, islamic fiction dengan sentuhan romansa, tentang ambisi dunia musik, dan konflik perbedaan keyakinan, boleh coba baca buku ini. Lumayan mengisi waktu ngabuburit.
Easy Peasy by Despersa

Go to review page

lighthearted medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? No
  • Loveable characters? No
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

2.5

Joanna adalah sosok penyelamat dalam hidup Gavin. Namun, percakapan yang tidak sengaja dia dengar di acara reuni membuat pandangannya pada Jo berubah. Satu tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali sebagai atasan dan bawahan. Meskipun berusaha menghindar, nyatanya Joanna masih menjadi magnet bagi Gavin. Dia harus secepatnya menyatakan perasaannya sebelum Ben, anak baru di kantornya, bertindak.

First time baca karya penulis. Not a good impression. Tema pekerjaan yang diambil cukup menarik: hukum. Sayang, meskipun diselipkan bagian riset mengenai dunia hukum, porsinya masih sedikit, plus nggak bisa blend dengan alur.

Soal karakterisasi, bagiku sudah lumayan, kecual fakta Jo & Gavin jadi kayak pasangan anak muda yang baru masuk kerja alih-alih pasangan dewasa. Oh, beberapa pertengkaran mereka itu kekanakan banget, sih. I mean, Gavin ini seorang bos (lawyer pula), tapi egois banget. Terus mereka ini kayak nggak ada sibuk-sibuknya kalau dipikir-pikir. Padahal, ini Kantor lawyer besar, hmmm.

Mungkin buku ini memang bukan mangkukku. Semoga bertemu karya lain dari penulis yang lebih cocok. Oh, yang suka office romance, boleh coba baca buku ini, kali aja cocok dengan seleramu.
The School for Good Mothers by Jessamine Chan

Go to review page

dark emotional inspiring lighthearted reflective tense slow-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.75

Waktu baca judulnya, refleks bertanya, "Memangnya ada, ya, sekolah parenting?". Selama ini menjadi orang tua nggak ada manualnya. Memang ada beberapa hal yang bisa dipelajari melalui buku atau seminar, bahkan pengalaman orang lain. Namun, penerapannya tetap kondisional. Maka dari itu, sekolah? Ilustrasi sampulnya juga nggak membantu mencerahkan. Malah terkesan memberikan impresi jika buku ini bergenre thriller.

Well, it thrilled me, indeed. 

Frida kehilangan hak asuh anak satu-satunya, Harriet, karena dianggap lalai setelah meninggalkannya sendirian di rumah selama dua jam lebih. Berbagai upaya selama persidangan dilakukan dan Frida tetap terancam tidak bisa bertemu putrinya kembali. Dia diharuskan mengikuti serangkaian pelajaran di sekolah milik pemerintah selama satu tahun. Tanpa interaksi dengan dunia luar sama sekali.

Kedengaran mengerikan memang. Dikurung di sebuah sekolah, meskipun diberi fasilitas yang cukup layak, Frida dan para ibu bermasalah lain, tak ubahnya tengah menghuni sebuah penjara. Setiap hari diharuskan mengikuti pelajaran demi pelajaran bersama boneka balita yang dibentuk mirip dengan anak masing-masing. Melakukan tes di setiap akhir materi untuk memperlihatkan apakah para ibu dinilai sudah mampu menjadi "ibu yang baik" bagi anak-anak mereka ketika keluar nanti. Dengan catatan: harus lulus dengan nilai sempurna dan tidak ada kesalahan.

Hidup di sekolah ini memang neraka. Ibu "dipaksa" memahami materi dan gilanya sedikit kesalahan akan berimbas pada kesempatan yang diberi kan untuk melakukan panggilan video dengan anak masing-masing.

Sepanjang baca rasanya stres banget. Mulai dari proses prapengadilan yang mengharuskan Frida melakukan kunjungan terbatas sembari diawasi dan dinilai sebagai pertimbangan hakim nantinya. Yang bikin marah, kelakuan pengawasnya yang seenak udel batalin jadwal, ngatur jadwal baru tanpa koordinasi dengan Frida, dan suka ngaret waktu pengawasan. Bagi si pengawas, apa pun usaha Frida tetap nggak cukup. Dia sudah menorehan noda permanen yang nggak akan hilang sampai kapan pun.

Buku ini dipenuhi sisi emosional seorang Frida. Ibu yang hanya berharap bisa hidup bersama anak semata wayangnya, satu-satunya harapan ketika suaminya memilih hidup dengan wanita lain. Maka dari itu, banyak emosi yang tumpah ketika harus mengikuti perasaan Frida selama masa "penghakiman".

Soal sekolah, seperti yang disebutkan sebelumnya, sistemnya bagus kalau dilihat lagi, tapi caranya agak kejam. Kupikir beberapa kali mengumpat dalam hati karena para ibu nggak diberikan kelonggaran. Jadi, ya, harus lurus dengan aturan. Seolah sekolah itu punya mgganual saklek yang harus dihafal dan diterapkan oleh semua ibu, tanpa melihat kondisi lingkungan masing-masing.

Bagian awal memang panjang, apalagi emosi Frida digambarkan dengan detail. Rasanya penulis ingin mengajak para pembaca menjadi Frida di sepanjang alur cerita. Makanya, berpotensi bikin bosan. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa sampai di bagian yang bikin geleng-geleng kepala, menangis, dan segala emosi buruk lain.

Satu hal dari buku ini yang sampai sekarang kuingat dan tertegun ketika membacanya: Anak selalu mengikuti apa yang orang tua lakukan. Selama pelatihan di sekolah, para ibu diberikan boneka tiruan anak mereka. Ibarat wadah baru, isinya masih kosong. Para boneka mengisi wadah itu dengan apa yang para ibu lakukan, entah berupa perilaku atau sekadar emosi dan ekspresi ketika dihadapkan pada suatu kejadian.

Jika orang tua merefleksikan traumanya, maka si anak akan menyerap dan bukannya mustahil nanti akan menjadikan trauma itu sebagai respons refleks.

Buku ini bagus banget. Isinya seolah mengkritik penanganan pada ibu yang "bermasalah", sederet peraturan mengekang dan nggak punya solusi konkret, dan lain-lain. Ending-nya kurasa sah-sah saja, mengingat perlakuan negara bagian ke Frida selama "hari nahas" (sebutan Frida di hari dia meninggalkan Harriet), walaupun nggak bisa dijadikan pembenaran.

You should read this book once a life.

Ps: better beli fisiknya kalau ada budget karena tulisannya kecil banget dibaca di ponsel hihi
Pss: Buat Gust, walaupun kamu baik dan masih tanggung jawab sama anak dan mantan istri, tetep aja kelakuanmu jahat. BANGET!
022 by Lokalpcy

Go to review page

lighthearted medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Strong character development? No
  • Loveable characters? No

2.0

Hubungan rumit, akhir yang tidak cukup sulit.

Selesai manggung, Cakrawala berniat langsung kembali ke indekos karena ada tugas kuliah yang belum selesai, plus dia lelah luar biasa. Manajernya datang mengabarkan ada media yang mau wawancara. Bubrah rencana Ceye (nickname Cakrawala). Mood-nya anjlok. Sebelum menyadari jika reporter yang mewawancarai punya penampilan unik dan berbeda dari reporter kebanyakan. Dan roda kisah mereka mulai berputar.

Mengesampingkan gaya penulisannya yang suka-suka banget, sebenarnya ceritanya menarik. Tapi, mulai off banget waktu Ceye menyatakan perasaannya ke Ladin.

Pertama, apa Ceye udah cari tahu Ladin nggak keberatan dengan caranya membawakan lagu favorit cewek itu dan jadi kode kalau dia punya perasaan lebih ke dia?

Kedua, gimana caranya orang-orang langsung tahu Ceye natap siapa? Bisa aja, kan, ada yang outfit-nya kembaran. Lagi pula, itu banyak banget orang posisinya. Masa iya mereka langsung paham siapanya, kecuali emang orang-orang di dekat Ladin berdiri saat itu (dan kayaknya bakal loading lama juga, sih).

Ketiga, waktu mereka akhirnya ngobrol di mobil, Ceye jelas-jelas mendesak Ladin buat jawab pertanyaannya. Dia kelihatan gusar karena Ladin hanya diam, nggak mulai inisiatif. Lalu ada kesan (menurutku) Ceye kecewa Ladin nggak bisa lihat ketulusannya bawain lagu favorit dia di atas panggung padahal nggak begitu mendapat antusiasme penonton. Pertanyaannya, yang nyuruh lu begitu siape, Ye?

Sepanjang baca ini terlalu gemas dengan kelakuan para cowok yang nembak Ladin ini. Ceye yang kekeuh mempertahankan posisi dan secara nggak langsung malah nyerang Ladin. Lalu, Wira yang mendadak jadi cowok jahat karena nggak mau mengerti isyarat. Bentar, buat yang terakhir Ladin juga ada andil, karena nggak tegas.

Bagian yang aneh sebenarnya ya, soal Ceye yang seolah melimpahkan kesalahan ke Ladin karena nggak mau menerima dia atau nggak egois sama perasaannya. Terus mendadak narasinya jadi berubah memojokkan Ladin. Padahal ya, di awal nggak ada indikasi Ladin trauma atau penjelasan apa gitu yang bikin dia harus mikir dulu buat jawab pernyataan Ceye.

Bukannya mau menggampangkan trauma, tapi alasan trauma Ceye soal hubungan itu bagiku kurang kuat. Kalau diperkuat di bagian itu kayaknya bakal oke aja, sih, dia nggak bisa tegas sama perasannya atau apa. Malah bagiku, masalah Ladin ini harusnya ada di Ceye alias kebalik.

Oh, ya, bukannya membela Tara, tapi emang jahat banget sih perlakuan Ceye ke Tara. Seenak jidat banget didekati lagi pas lagi semi patah hati. Alasan apa pun tetap nggak masuk akal kalau ending-nya dia gituin Tara.

Again, buku ini kayaknya memang bukan mangkuk dan porsiku. Semoga bisa bertemu buku lain dari penulis yang lebih sesuai selera.
Gashale by Herania

Go to review page

emotional lighthearted reflective medium-paced
  • Plot- or character-driven? A mix
  • Strong character development? Yes
  • Loveable characters? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

4.0

Antara cowok dan cewek mustahil bisa berteman tanpa ada perasaan. Awalnya Asga, Rale, dan Masha bisa menampik pernyataan yang sering diperdebatkan itu. Bagi Rale, Masha sudah seperti adiknya sendiri. Sedangkan, Asga adalah saudara lelaki yang nggak Rale punya. Asga juga menganggap Masha sebagai sahabatnya, sampai akhir-akhir ini perasaannya semakin tidak bisa dikendalikan.

Gashale adalah channel YouTube yang dijalankan oleh tiga orang; Asga, Masha, dan Rale. Nama channel yang diambil dari tiga pemiliknya itu sukses menarik banyak orang karena menyajikan konten yang "berisi". Selama hampir tiga tahun, semuanya berjalan lancar, sebelum dua di antara mereka saling jatuh cinta.

Pas nulis reviu ini, refleks bilang, "Tuh, kan! Akhirnya jatuh cinta juga!" tapi percayalah, maksudnya senang-senang saja mereka pacaran karena Asga is a good boy. Masha juga cewek baik-baik, nggak neko-neko. Masalahnya ada di Rale yang protektif banget ke Masha karena udah kayak adiknya sendiri.

Eh, serius, kayak begitu jadi masalah? Tapi Masha bukan adiknya Rale beneran, kan? Nah, di sini ada back story-nya. Adik kandung Rale meninggal karena kecelakaan. Beberapa tahun kemudian, Rale ketemu Masha yang lagi sendirian di Jakarta karena orang tuanya tinggal di luar negeri. Mereka akrab dan Rale menemukan beberapa kesamaan di diri adik kandungnya, Gina, dengan Masha.

Ceritanya nggak rumit kalau nggak ada plot twist yang bikin pembaca (khususnya aku) pengin bolongin tembok. Baik Asga, Rale, dan Masha punya keterkaitan langsung dan nggak langsung. Mereka ini kayak kumpulan orang terluka dan saling menyembuhkan.

Paham banget sama sikap dan keputusan Rale di akhir karena yah, dia kan terluka, ya. Dukanya masih belum sembuh even bertahun-tahun berusaha menghindar dari sumber masalah. Ini membuktikan kalau waktu nggak cukup bisa menyembuhkan tanpa ada tindakan.

Kasihan sama Masha sebenarnya. Cuman apa ya, dia ada juga karena Rale butuh semacam trigger buat bangkit lagi.  Pokoknya mereka bertiga ini saling melengkapi banget, lah.

Di buku ini cuma dikasih 2 sudut pandang; Asga dan Masha. Awalnya sempat mikir kayaknya nggak adil kalau Rale nggak dikasih porsi juga, tapi kayak kata buddy read-ku, kayaknya bakal stres banget kalau baca pov Rale, secara dia, kan *silakan baca sendiri*.

Sejak baca Mana Hijrah?! aku udah suka sama tulisan Kak Herania. Pas dapat kesempatan buat baca dan mengulas buku ini, jelas bahagia banget. Walaupun voice cowok di sini masih kurang menonjol, tapi cukup terbantu dengan adanya penanda sebutan "aku" buat Masha dan "gue" buat Asga. Sama satu lagi kekurangannya, kurang panjang ceritanya *cry cry*. I need more :p

Ini teori konspirasi semata, tapi apa emang sengaja nggak ada pov Rale karena bakal ada kisahnya sendiri? *berteori apa nodong* xD

Anyway, yang butuh bacaan romance gemas, tapi juga bikin nangis, bisa baca buku ini!
The Second Best by Morra Quatro

Go to review page

dark emotional lighthearted reflective medium-paced
  • Plot- or character-driven? Character
  • Loveable characters? Yes
  • Diverse cast of characters? Yes
  • Flaws of characters a main focus? Yes

3.75

Ini buku pertama penulis yang aku baca. Buku ini punya kesan kuat soal kehidupan remaja akhir yang kehidupannya serba nggak pasti dan nggak punya cukup buku petunjuk buat keluar dari satu masalah (or simply one of our negative thought).

The Second Best mengarah pada Gwen yang memilik Aidan sebagai orang yang dia kagumi, sukai, bahkan cintai. Lewat PSM, mereka dipertemukan dan lewat situ pula, kedekatan mereka menyeret Edgar. Primadona dalam unit kegiatan kampus yang pelan-pelan ikut menghanyutkan perhatian Gwen.

Keteguhan hatinya untuk Aidan perlahan mengikis berkat eksistensi Edgar dan perlahan berhasil mengalihkan fokus Gwen dari Aidan. Lagi pula, Aidan sudah punya "pawang". Jadi, Gwen tidak punya banyak pilihan selain tetap memperjuangkan dan dianggap sebagai cewek-nggak-tahu-diri-yang-merebut-cowok-orang atau leave him.

Masa lalu Edgar mulai memperlihatkan apa yang selama ini tidak pernah Gwen lihat. Meskipun selama ini sudah merasa saling mengenali diri masing-masing, Edgar lebih "gelap" dari yang Gwen duga. Edgar menjelma menjadi sosok yang jauh dari bayangan, bahkan realita Gwen.

Buku ini punya premis yang simpel sebenarnya, tapi narasi penulis sukses bikin vibe-nya jadi lain. Bagi yang lagi cari novel romance estetik dan sendu, bisa coba buku ini.

Btw, aku suka ending-nya. Rasanya ngepas aja sama alur ceritanya.